Sistem Keluarga Yang Sangat Menakjubkan
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً
وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya,
dan Dia menjadikan diantara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir." (QS. Ar-Ruum :
21).
Sahabat sekalian, mari kita perhatikan ayat ini. Ayat ini berbicara
tentang penciptaan manusia yang berpasangan. Pasangan tersebut menjadi awal
terbentuknya satu sistem keluarga dalam kehidupan manusia. Satu sistem, yang
jika kita tafakuri, merupakan hal yang sangat menakjubkan.
Ayat ini diawali dengan, "dan diantara tanda-tanda
kekuasan-Nya", lalu diakhiri dengan "Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir". Kalau Allah
sebut sesuatu sebagai ayat (tanda kekuasaan), menunjukkan sesuatu itu tidak
biasa, tidak sederhana. Tetapi mengandung kehebatan dan keistimewaan yang luar
biasa. Kuat sekali penegasan Allah dalam ayat ini, penyebutan sebagai ayat pada
bagian awal dan akhir yang mengapit pernyataan ini, bahwa sistem hidup manusia
yang berpasangan dan tatanan keluarga adalah hal yang sangat ajaib. Bahkan
dalam penegasan yang terakhir menggunakan dua huruf taukid (yang berfungsi
untuk menguatkan pernyataan); huruf "inna" dan "lam".
Lakum,
untuk kalian
Allah ciptakan manusia beserta pasangannya itu kemaslahatannya
bukan untuk siapa-siapa tapi untuk manusia sendiri. Allah sebagai Penciptanya,
maha tahu akan fitrah dan kebutuhannya. Bahwa manusia membutuhkan pasangan
untuk melengkapi hidupnya, untuk menyempurnakan separuh agamanya. Nabi Adam
'alaihissalam, saat meni'mati surga yang keni'matannya tiada tara itu, tetap
saja merasa ada yang kurang, merasa kesepian tanpa adanya pasangan. Maka Allah
menciptakan Hawa sebagai pasangan baginya.
Juga untuk keberlangsungan manusia itu sendiri, agar terus menerus
berketurunan. Kita bisa bayangkan, bagaimana kalau tidak ada sistem berpasangan
dan berkeluarga ini, tentu dari dulu manusia sudah punah.
Min
Anfusikum, dari diri-diri kalian.
Allah ciptakan pasangan bagi manusia, bukan dari makhluk lain, tapi
dari jenis manusia itu sendiri. Agar tidak merasa asing baginya. Agar dua jiwa
itu mudah untuk saling akrab. Karena yang menjadi pasangannya itu bukan siapa-siapa,
tapi merupakan belahan jiwanya. Untuk itulah Allah menciptakan Hawa dari bagian
tubuh nabi Adam, yaitu tulang rusuknya. Yang bengkok itu. Sehingga menjadi
karakter tersendiri bagi perempuan. Agar ia diluruskan secara halus, karena
kalau dengan cara yang keras, malah akan menjadi patah. Dan itu bisa kita
rasakan -bagi yang sudah berpasangan- bahwa orang yang dulunya tidak kita kenal
sama sekali, orang asing, tapi saat ini begitu dekat dan akrab. Andaikan
pasangan itu berasal dari makhluk lain, tentu keni'matan jiwa seperti itu tidak
akan dapat kita rasakan. Ini anugerah yang sangat besar, maka syukurilah fitrah
ini. Janganlah bertindak yang menyalahi fitrah yang telah Allah ciptakan.
Azwajan,
pasangan
Meski dari jenis makhluk yang sama, yaitu manusia. Tetapi yang
namanya pasangan, tentu saja satu sama lain memiliki hal yang berbeda untuk
dapat saling melengkapi. Misalnya sandal
kanan dipasangkan dengan sandal kiri, keduanya saling melengkapi sehingga lengkaplah
kebutuhan orang untuk dapat beralas kaki dengan sandal tersebut. Untuk itulah
Allah menciptakan sepasang laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki tabiat
dan kecendrungan yang berbeda. Banyak sekali fakta tentang tabiat dan
kecendrungan yang berbeda dari keduanya yang mesti kita ketahui, dan semuanya
semata-mata untuk saling melengkapi dan sesuai dengan tugasnya masing-masing.
Ini adalah fitrah, bahwa "Dia (Allah) menciptakan dua berpasangan,
laki-laki dan perempuan." Dalam prakteknya, tentu saja mesti berdasarkan
syariat yang telah Ia tetapkan, yaitu pernikahan.
Ini adalah anugerah yang sangat besar, janganlah bertindak
menyalahi fitrah. Adanya perkawinan sesama jenis, hanya akan membuat kerusakan
dalam kehidupan.
Posisikanlah laki dan perempuan sesuai dengan tabiatnya
masing-masing yang berbeda. Perbedaan ini jangan diabaikan, jangan
disama-ratakan. Perbedaan ini fitrah, tindakan menyalahi fitrah hanya akan
membuat kerusakan. Allah telah menegaskan "Dan tidaklah laki-laki itu sama
seperti perempuan".
Litaskunu
ilaiha, agar kalian merasa tentram kepadanya
Inilah tujuan berpasangan
atau menikah itu, agar merasa tentram. Potensi sudah Allah sediakan untuk
mencapai tujuan itu. Hanya manusia perlu berusaha menghadapi godaan syetan yang
selalu ingin mengacaukan hubungan dari keduanya. Maka sepasang suami istri mesti
bahu membahu untuk menciptakan ketentraman. Dan perlu diingat, ketentraman itu
lahir dari hati. Hati yang selalu ingat kepada Allah. Bukan dari tampilan fisik
dan materi kebendaan. "Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati akan
menjadi tenang". Dua hati seperti itulah yang jika bertaut akan tercapai
ketentraman dalam hidup. Oleh karena itu, keduanya mesti lebih banyak disibukan
dengan memperbaiki hati, yang mendorongnya untuk tunduk dan patuh kepada Allah.
Bukan hanya sibuk merawat fisik -meskipun hal itu perlu untuk menyejukkan mata
diantara keduanya-, dan meraih harta benda -meskipun itu diperlukan sebatas
menopang hidup di dunia-. Fisik dan harta benda duniawi itu hanyalah rizki dan
pemberian dari Allah, yang mesti diterima dengan hati yang ridha dan qona'ah,
serta selalu bersyukur atas "sekecil" apapun ni'mat yang diberikan.
Sederhananya, meskipun rumah sempit, namun tetap dapat memberi ketentraman dan
kenyamanan karena hati yang luas, yang penuh syukur kepada Allah.
Mawaddah
wa rahmah, rasa cinta dan kasih sayang
Perhatikanlah, "Dan Dia (Allah) telah menjadikan diantara
kalian rasa cinta dan kasih sayang". Jadi, rasa cinta dan kasih sayang itu
Allah yang menanamkannya dalam hati kedua pasangan yang halal. Meski sebelumnya
keduanya merasa asing dan belum ada rasa cinta dan menyayangi, tetapi ketika
keduanya disatukan, muncullah perasaan itu. Meskipun kita diberi kebebasan
untuk memilih pasangan yang kita sukai untuk menikahinya, tetapi rasa suka
sebelum menikah dengan rasa cinta dan kasih sayang yang Allah berikan setelah
pernikahan itu tentu amatlah berbeda. Untuk itu, setiap pasangan mesti terus
menjaga dan merawat anugerah Allah yang besar ini, karena syetan akan terus
berusaha memunculkan kebencian diantara keduanya. Rasa cinta dan kasih sayang yang
Allah berikan ini menjadi hal yang sangat menakjubkan dalam kehidupan manusia.
Syekh Muhammad Thahir bin
'Asyur rahimahullah dalam tafsirnya At-Tahrir wat Tanwir, menyebutkan poin-poin
keistimewaan sistem pasangan manusia dan tatanan keluarga ini, yaitu :
1.
Adanya sistem berketurunan dalam hidup manusia
2.
Sistem keturunan tersebut dihasilkan dari berpasangan, bukan dari dirinya
sendiri seperti tumbuhan
3.
Pasangan tersebut berasal dari jenis makhluk yang sama, karena jika berasal
dari yang berbeda tidak akan dihasilkan keturunan
4.
Pasangannya merupakan pasangan yang memiliki kedekatan dan keakraban diantara
keduanya, bukan pasangan yang keras dan saling membinasakan seperti halnya
katak
5.
Adanya rasa cinta dan kasih sayang diantara pasangan
Untuk
itu, marilah kita mensyukuri anugerah dan ni'mat yang teramat besar ini.
Wallahu
A'lam.
Semoga
Allah membimbing kita semua.
Cimahi,
25 September 2020
Muhammad
Atim,
Sentuhan
Tafsir Al-Qur'an
