Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

Jenjang Pendidikan dalam Manhaj Islam

 


 

 Oleh : Muhammad Atim



Sudah lama pendidikan kita ini
mengacu kepada barat. Padahal Islam memiliki manhaj tersendiri yang berbeda
dengan yang lainnya. Suatu manhaj yang telah diterapkan oleh Rasulullah saw
dalam mendidik generasi terbaiknya. Tak sedikit muslim yang terpukau dengan
teori-teori barat, padahal Al-Qur'an dan Hadits sangat penuh dengan muatan
nilai-nilai pendidikan yang mesti diterapkan. Para ulama telah konsen dalam
bidang pendidikan, merumuskan konsep dan bersungguh-sungguh dalam
pelaksanaannya. Sehingga lahirlah generasi yang berkualitas, para ulama dan
orang-orang shaleh sepanjang zaman. Karena pendidikan dan keilmuan adalah
pondasi utama sepanjang peradaban Islam.



Kesalahan paling menonjol dari
sistem barat, ataupun sistem lainnya selain sistem Islam, adalah mengabaikan
pendidikan agama. Mengabaikan penanaman iman, akhlaq dan kedisiplinan dalam
ibadah. Mengabaikan panduan dan kurikulum utama dalam pendidikan yaitu
Al-Qur'an dan Sunnah. Padahal itu adalah inti dari pendidikan Islam.



Dalam manhaj pendidikan Islam,
Al-Qur'an itu adalah kurikulum paling utama dari jenjang paling awal hingga
paling akhir. Yang dipelajari oleh muslim itu tidak ada yang keluar dari
panduan Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an adalah sumber segala ilmu. Hal ini
diasaskan diantaranya oleh hadits Nabi saw :



عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : ... وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ
يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ
عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ
وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ
يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ



"Dari Abu Hurairah dia
berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : ...

Tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Al
Qur'an dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun
ketenangan kepada mereka, mereka diliputi oleh rahmat dan dikelilingi para
malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang
berada di sisi-Nya. Dan siapa yang amalnya lambat, tidak akan dapat dipercepat
oleh nasabnya". (HR. Muslim, no. 2699).



Syekh Muhammad Thahir bin
'Asyur (1296-1393 H / 1879-1973 M) rahimahullah salah seorang ulama besar,
pemikir dan pembaharu Islam zaman kontemporer di abad 20, salah satu karyanya
dalam bidang pendidikan, "Alaisa Ash-Shubhu biqariib" sangat penting
untuk dikaji oleh pegiat pendidikan dan keilmuan Islam. Diantaranya beliau
menyebutkan :



كان
التعليم درجتين : إحداهما التعليم الإبتدائي ويسمى بالتأديب ويسمى معلمه المؤدب
والمكتب وموضعه يسمى الكُتَّاب، وتلامذته أبناء الكتاب أو أبناء المكتب وهو
التعليم الذي يتلقى فيه الصبي حروف الهجاء والكتابة تدريجا ويلقن سور القرآن
القصيرة
.



"Pengajaran (Islam) itu
memiliki dua tingkatan. Pertama adalah pengajaran dasar (ibtidai) dan dinamakan
dengan Ta'dib, pengajarnya disebut Muaddib dan Mukattib dan tempatnya disebut
Kuttab. Murid-muridnya adalah anak-anak Kuttab atau anak-anak Maktab. Dia
adalah pengajaran yang seorang anak di dalamnya bertalaqi huruf-huruf hijaiyyah
dan tulisan secara bertahap dan ditalqinkan/didiktekan surat-surat Al-Qur'an
yang pendek."



Selanjutnya beliau merinci
tentang pendidikan jenjang Kuttab tersebut. Di kesempatan lain saya akan
membahasnya insya Allah. Lalu beliau menyebutkan jenjang berikutnya :



أما
الدرجة الثانية وهي التعليم الذي فوق الإبتدائي فهو تلقي دروس العلوم بالفهم وشرح
المتون التي حفظت في التعليم الإبتدائي، ثم يرتقون في دراسة كتاب العلوم بشروح
وحواشي، وينتقلون من انتهاء كتاب إلى أوسع منه في علمه ببسط شرح وزيادة مسائل،
وهذا التعليم لا منتهى له وهو يجمع ما يعادل التعليم الثانوي والتعليم العالي
.



"Adapun pengajaran yang di
atas ibtidai adalah dengan talaqqi pembelajaran ilmu-ilmu dengan pemahaman,
syarah matan-matan yang telah dihapal di dalam pengajaran ibtidai, kemudian
mereka meningkat dalam mempelajari kitab-kitab ilmu dengan syarah-syarah dan
hasyiah-hasiyah (syarah dari syarah), dan berpindah setelah menyelesaikan suatu
kitab kepada yang lebih luas darinya dalam ilmunya dengan memperpanjang
penjelasan dan penambahan masail (permasalahan keilmuannya). Pengajaran di
level ini tidak ada akhirnya, ini menggabungkan pengajaran yang setingkat
dengan tsanawi (SMA) dan pengajaran 'ali (perguruan tinggi)."



Jenjang setelah ibtidai
(Kuttab) ini juga disebut sebagai jenjang Madrasah, sebagaimana disebutkan oleh
Mushtafa As-Sibai dalam bukunya "Min Rowa'i Hadharatina"



Kita perlu belajar dengan
serius bagaimana jenjang pendidikan dasar itu dijalankan agar melahirkan
generasi berkualitas seperti halnya para ulama dan salafush shaleh itu
dilahirkan darinya.



Imam Asy-Syafi'i rahimahullah
misalnya mengisahkan tentang pendidikan dirinya :



كنت
يتيما في حجر أمي، فدفعتني في الكُتّاب، فلما ختمت القرآن دخلت المسجد فكنت أجالس
العلماء



"Keadaanku yatim dalam pengasuhan
ibuku. Lalu ia memasukkanku ke Kuttab. Ketika aku telah khatam (menghapal)
Al-Qur'an, aku masuk ke masjid dan duduk bersama para ulama". (Ibnu Abdil
Bar, Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi).



Begitu pula imam Bukhari
rahimahullah mengisahkan tentang pendidikan dirinya, khususnya hingga beliau
menjadi pakar dalam ilmu hadits.



وبالسند
الماضي إلى محمد بن أبي حاتم ، قال : قلت لأبي عبد الله : كيف كان بدء أمرك ؟ قال
: ألهمت حفظ الحديث وأنا في الكتاب
. فقلت : كم كان
سنك؟ فقال : عشر سنين ، أو أقل . ثم خرجت من الكتاب بعد العشر ، فجعلت أختلف إلى
الداخلي وغيره. فقال يوما فيما كان يقرأ للناس
: سفيان ، عن أبي
الزبير ، عن إبراهيم ، فقلت له : إن أبا الزبير لم يرو عن إبراهيم . فانتهرني ،
فقلت له : ارجع إلى الأصل . فدخل فنظر فيه، ثم خرج ، فقال لي : كيف هو يا غلام ؟
قلت : هو الزبير بن عدي، عن إبراهيم، فأخذ القلم مني، وأحكم كتابه، وقال : صدقت.
فقيل للبخاري : ابن كم كنت حين رددت عليه ؟ قال ابن إحدى عشرة سنة . فلما طعنت في
ست عشرة سنة، كنت قد حفظت كتب ابن المبارك ووكيع ، وعرفت كلام هؤلاء، ثم خرجت مع
أمي وأخي أحمد إلى مكة، فلما حججت رجع أخي بها، وتخلفت في طلب الحديث

.



"Dengan sanad yang lalu
kepada Muhammad bin Abi Hatim, ia berkata : Aku bertanya kepada Abu Abdullah
(imam Bukhari), "Bagaimana awal mula urusanmu?" Ia menjawab :
"Aku diilhami untuk menghapal hadits ketika aku di Kuttab." Lalu aku
bertanya, "Berapa usiamu saat itu?" Ia menjawab : " 10 tahun
atau kurang. Kemudian aku keluar dari Kuttab setelah usia 10 tahun, lalu aku
sering mendatangi Ad-Dakhili dan yang lainnya. Suatu hari ia berkata, di antara
yang ia bacakan kepada orang-orang, "Sufyan, dari Abu Zubair, dari
Ibrahim". Lalu akj berkata kepadanya, "Sesungguhnya Abu Zubair tidak
meriwayatkan dari Ibrahim." Lalu ia menghardikku. Aku katakan kepadanya,
"Lihat kembali ke sumber aslinya". Kemudian ia masuk dan melihatnya,
lalu keluar. Lalu ia berkata kepadaku, "Bagaimanakah ia nak?" Aku
menjawab, "Ia adalah Zubair bin Adi dari Ibrahim." Lalu ia mengambil
pena dariku dan mengoreksi kitabnya, lalu ia berkata, "kamu benar".
Ditanyakan kepada Al-Bukhari, "Anak usia berapa tahunkah engkau ketika
menyanggahnya?" Ia menjawab, "Anak usia 11 tahun." Ketika aku
dewasa berusia 16 tahun, aku telah menghapal kitab-kitab Ibnu Mubarok dan
Waqi', aku mengetahui perkataan-perkataan mereka. Kemudian aku keluar bersama
ibuku dan saudaraku Ahmad ke Mekkah. Setelah aku melaksanakan haji, saudaraku
pulang bersama ibuku, sedangkan aku tetap di sana untuk mencari hadits."
(Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala).