Toleransi Tidak Mesti Mengucapkan Selamat
ini diitulis tanggal 25 Desember 2020
Oleh :
Muhammad Atim
Toleransi
dengan mengucapkan selamat beda ga sih?
Saya
kira ini sangat mudah sekali dipahami perbedaannya.
Toleransi
artinya menghargai hak orang lain untuk menganut pendapat dan keyakinan yang
berbeda dengan kita. Implementasinya adalah dengan memberi kebebasan kepada
mereka dalam menjalankan pendapat dan keyakinannya, tanpa diganggu dan dihina.
Selama masih dalam batas tidak mencedrai yang lain. Ini sesuai dengan ajaran
Islam, bahwa tidak ada paksaan agar orang menganut agama Islam. Da'wah di dalam
syariat Islam itu artinya menawarkan dan mengajak, tidak memaksa.
Sedangkan
mengucapkan selamat, ini sudah melebihi makna toleransi. Ada rasa saling
mencintai dan senang terhadap suatu keberhasilan yang diraih atau terhadap
suatu perayaan. Di dalam Islam tidak dilarang adanya rasa cinta terhadap sesama
manusia meskipun berbeda agama. Kita mencintai orang di luar agama kita dalam
batas kemanusiaan dan keduniaan. Bahkan kita diperintahkan untuk berbuat baik
dan berbuat adil kepada mereka. Inilah makna Islam membawa rahmat bagi seluruh
alam. Maka dalam hal-hal keduniaan, kita boleh mengucapkan selamat. Misalnya
selamat atas kelulusan studinya, selamat atas pernikahannya, dan sebagainya.
Ini boleh kita ucapkan kepada non-muslim yang mau hidup rukun bersama kita, mau
menjalin tali kasih dalam persaudaraan kemanusiaan, bukan kepada mereka yang
memusuhi dan memerangi kita.
Adapun
dalam perayaan-perayaan khusus keagamaan, yang sangat erat kaitannya dengan
keyakinan. Ini adalah wilayah yang tidak boleh dilabrak. Karena akan
mengaburkan keyakinan itu sendiri. Perayaan Natal itu adalah perayaan khusus
keagamaan. Dimana kaum kristiani merayakan kelahiran yesus yang mereka klaim
sebagai Tuhan dan anak Tuhan. Sedangkan kita, sebagai muslim tidak meyakini
itu. Maka sudah sewajarnya untuk konsisten dalam keyakinan sendiri. Mengucapkan
selamat terhadap perayaan tersebut berarti ikut senang terhadapnya. Padahal
dalam pandangan keyakinan seorang muslim, natal berisi kemungkaran yang sangat
besar karena merayakan kelahiran anak tuhan yang termasuk kategori kekufuran.
Di sini bukanlah tempatnya toleransi. Maka wajar jika mengucapkan selamat atas
perayaan ini dihukumi haram, meskipun pengucapnya tidak setuju dengan isinya.
Hal ini sama seperti mengucapkan selamat atas kemungkaran yang lain, misalnya
selamat atas minum khomer, selamat atas makan babi, mencuri, berzina dan lain
sebagainya. Jika mengucapkannya disertai dengan sikap setuju atas isinya,
artinya menyetujui kelahiran yesus sebagai tuhan, maka jelas ini adalah
kekufuran.
Sebagai
seorang muslim, harusnya senantiasa mengahayati aqidahnya. Takut akan kemarahan
Allah yang dipersekutukan dengan yang lain, dan dikatakan memiliki anak.
وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا
اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ
كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا
(5)
"Dan
untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: "Allah mengambil
seorang anak. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu,
begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari
mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta." (QS. Al-Kahfi : 4-5).
تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ
مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا
لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا
(92
"Hampir-hampir
langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,
karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak
layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak." (QS. Maryam : 90-92).
Semoga
Allah senantiasa menjaga iman kita hingga akhir hayat.
