Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

Ilmu itu didatangi, tidak mendatangi

 




Inilah prinsip menuntut ilmu di
dalam Islam. Islam sangat memuliakan ilmu, menempatkannya pada posisi yang
sangat tinggi. Seseorang tidak dikatakan berislam dengan benar kecuali dengan
landasan ilmu. Untuk itulah, sesuatu yang sangat diperintahkan untuk dicari
adalah ilmu. Karena ia lebih berharga dari apapun juga. Ilmulah yang dapat
menyelamatkan hidup manusia. Itulah mengapa ketika Bani Israil meminta
penjelasan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dzul Qarnain
yang menjelajah bumi dalam rangka dakwah dan ekspansi kekuasaan, justru Allah
subhanahu wa ta’ala lebih dahulu mengingatkan mereka dengan sebuah perjalanan
yang lebih penting dari itu, perjalanan dalam menuntut ilmu dari kisah nabi
Musa ‘alahis salam yang hendak belajar kepada nabi Khadir ‘alahis salam, yang
justru merupakan nabi dari kalangan mereka sendiri. Hal itu tiada lain, karena
Allah sendiri yang telah menyatakan bahwa, "Allah mengangkat derajat
orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu."
(Al-Mujadalah : 11). Jika Allah telah memuliakan ilmu dan mengangkat derajat
para ahlinya, lalu mengapa kita sebagai makhluk-Nya yang hina tak berdaya tidak
berusaha untuk memuliakannya? Maka jika ada orang yang merendahkan ilmu,
sebenarnya dia sedang merendahkan dirinya sendiri. Karena ilmulah sumber
kemuliaan.



Marilah kita belajar kepada orang
yang telah memuliakan ilmu, lalu ilmu memuliakannya.



Abdullah bin Abbas radhiyallahu
‘anhu merupakan lautan ilmu para sahabat, meriwayatkan 1660 hadits dan menjadi
staf ahli di pemerintahan Umar bin Khottob padahal umurnya baru 15 tahun.
Bagaimanakah caranya ia menuntut ilmu? Mari kita ikuti kisahnya.



رَوَى الحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ : لَمَّا قُبِضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ
لِرَجُلٍ مِنَ الْأََنْصَارِ : هَلُمَّ فَلْنَسْأَلْ أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ اليَوْمَ كَثِيْرٌ فَقَالَ :
عَجَبًاً لَكَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، أَتَرَى النَّاسَ يَفْتَقِرُوْنَ إِلَيْكَ
وَفِي النَّاسِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ فِيْهِمْ ؟ قَالَ : فَتَرَكْتُ ذَاكَ وَ أَقْبَلْتُ أَسْأَلُ أَصْحَابَ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وََإِِنْ كَانَ يَبْلُغُنِي
الْحَدِيْثُ عَنِ الرَّجُلِ فَآتِي بَابَهُ وَ هُوَ قَائِلٌ فَأَتَوَسَّدُ
رِدَائِي عَلَى بَابِهِ يَسْفِي الرِّيْحُ عَلَيَّ مِنَ التُّرَابِ فَيَخْرُجُ
فَيَرَانِي فَيَقُوْلُ : يَا ابْنَ عَمِّ رَسُوْلِ اللهِ صَلََّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَا جَاءَ بِكَ ؟ هَلَّا أَرْسَلْتَ إِلَيَّ فَآتِيْكَ ؟ فَأَقُوْلُ :
لَا أَنَا أَحَقُّ أَنْ آتِيَكَ، قَالَ : فَأَسْأَلُهُ عَنِ الْحَدِيْثِ فَعَاشَ
هَذَا الرَّجُلُ الأَنْصَارِي حَتَّى رَآنِي وَ قَدِ اجْتَمَعَ النَّاسُ حَوْلِي
يَسْأَلُوْنِي فَيَقُوْلُ هذَا الْفَتَى كََانَ أَعْقَلَ مِنِّي (مستدرك الحاكم
جـزء ١ ص ١٨٨ إسناده صحيح). قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ : كُنْتُ أَسْأَلُ
عَنِ الْأَمْرِ الْوَاحِدِ ثَلَاثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .(انظر أيضا :
سير أعلام النبلاء للذهبي جـ ٣ص٣٤٤)



 



Al-Hakim meriwayatkan dari Abdulah
bin Abbas, ia berkata, “Ketika Rosululloh shallahu ‘alaihi wasallam telah
wafat, aku berkata kepada seorang lelaki dari Anshor, “Mari kita bertanya
kepada para sahabat Rosululloh shallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya
mereka hari ini banyak.” Orang itu berkata, “Mengherankan kau ini wahai Ibnu
Abbas, apakah kau anggap orang-orang memperhatikanmu, sedangkan di antara
mereka ada para sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dan siapakah engkau di
antara mereka?” Aku pun meninggalkannya dan bertanya kepada para sahabat. Jika
aku mendengar ada sebuah hadits yang dimiliki oleh salah seorang sahabat Nabi
Shallahu ‘alaihi wasallam, maka aku akan mendatangi pintu rumahnya pada waktu
qoilulah (waktu tidur siang) dan aku akan duduk di atas selendangku di dekat
pintu rumahnya. Lalu debu pun beterbangan di atas tubuhku. Lalu ia keluar dari
rumahnya dan melihatku dan berkata: “Wahai sepupu Rasulullah, apa yang
membuatmu datang ke sini?! Apakah engkau tidak berkirim surat saja sehingga aku
datang kepadamu?” Maka aku menjawab: “Aku yang lebih pantas untuk datang
kepadamu.” Ibnu Abbas berkata, maka aku menanyakan kepadanya tentang hadits
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian hiduplah orang Anshor tersebut
hingga ia melihatku, orang-orang berkumpul di sekelilingku mereka bertanya
kepadaku. Ia berkata, “Anak muda ini lebih cerdas dariku.” (Mustadrok Hakim,
1/188). Ibnu Abbas juga berkata, “Aku menanyakan satu permasalahan kepada 30
sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wasallam.” (lihat juga Siyar A’lam An-Nubala,
3/344).



Perhatikan perkataan Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhu ketika dikatakan kepadanya mengapa tidak mengirim orang saja
untuk memintanya datang, Ibnu Abbas menjawab, “Aku yang lebih pantas untuk
datang kepadamu.” Perkataan ini mirip yang diucapkan oleh Imam Malik bin Anas
rohimahulloh ketika diminta untuk datang ke istana mengajarkan anak khalifah :



إِنَّ العِلْمَ يُؤْتَى لَا يَأْتِي



“Sesungguhnya ilmu itu didatangi,
tidak mendatangi.”



Berikut ini kisahnya,



كَانَ هَارُوْنُ الرَّشِيْدُ بَعَثَ
إِلَى مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ رَحِمَهُ اللهُ يَسْتَحْضِرُهُ لِيَسْمَعَ مِنْهُ
اِبْنَاهُ الأَمِيْنُ وَالْمَأْمُوْنُ، فَأَبَى عَلَيْهِ وَقَالَ : إِنَّ العِلْمَ
يُؤْتَى لَا يَأْتِي. فَبَعَثَ إِلَيْهِ ثَانِيًا فَقَالَ : أَبْعَثُهُمَا
إِلَيْكَ يَسْمَعَانِ مَعَ أَصْحَابِكَ. فَقَالَ مَالِكٌ : بِشَرِيْطَةِ
أَنَّهُمَا لَا يَتَخَطَّيَانِ رِقَابَ النَّاسِ، وَيَجْلِسَانِ حَيْثُ يَنْتَهِي
بِهِمَا الْمَجْلِسُ، فَحَضَرَاهُ بِهٰذَا الشَّرْطِ. (اِبْنُ عَسَاكِرَ تَارِيْخُ
مَدِيْنَةِ دِمَشْقَ ٧٤/٢١٩)



Harun Ar-Rasyid (seorang khalifah
dari pemerintahan Abbasiyah -pent) pernah mengirimkan utusan kepada Malik bin Anas rahimahullah memintanya untuk datang agar kedua anaknya, Al-Amin dan
Al-Ma’mun dapat mendengar darinya, tetapi beliau menolak. Ia berkata,
“Sesungguhnya ilmu itu didatangi tidak mendatangi”. Lalu sang khalifah mengirim
utusan kepadanya kedua kalinya dengan berkata, “Aku akan kirimkan kedua anakku
kepadamu agar mareka mendengarkan bersama sahabat-sahabatmu. Lalu Malik
berkata, “Dengan syarat keduanya tidak melangkahi pundak orang-orang, hendaklah
mereka duduk dimana saja mereka mendapatkan tempat dalam majelis. Maka mereka
berdua hadir dengan melaksanakan syarat tersebut.” (Ibnu Asakir, Tarikh Madinah
Damaskus, jilid 74 hal.219).



 Begitulah tradisi para ulama dalam
memuliakan ilmu. Bahkan diantara mereka ada yang mengatakan, “Siapapun orang
yang aku belajar kepadanya, maka aku siap menjadi budaknya.” Ini menjadi suatu
adab di dalam menuntut ilmu. Siapapun yang ingin mendapatkan kemuliaan dan
manfaat dari ilmu, ia mesti menjungjung tinggi adab ini terlebih dahulu.
Beradab sebelum berilmu. Karena ilmu tanpa adab bagaikan jasad tanpa ruh.



Jika hari ini, ilmu dan para ahlinya
tidak lagi dimuliakan, guru diposisikan sebagai buruh oleh para orang tua untuk
mengajari anak-anaknya, lalu murid-murid telah kehilangan sikap hormat dan
sopan santun kepada gurunya, ditambah lagi dengan sikap guru yang orientasinya
menumpuk keuntungan duniawi, lengkap sudah kerusakan yang terjadi. Hilanglah
keberkahan dan manfaat dari ilmu. Terlebih ilmu-ilmu syar’i, yang berkaitan
langsung dalam memahami ajaran Islam, yang posisinya lebih tinggi dibanding
dengan ilmu apapun. Sudah seharusnya diposisikan lebih tinggi.