Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

I'TIKAF UNTUK MENDAPATKAN LAILATUL QADR

 Ustadz,
untuk mendapatkan lailatul Qadr apakah harus iktikaf di Masjid ? Bagaimana
dengan yang melakukan amalan di rumah ?


 



Jawaban



 



            Ulama sepakat akan kesunnahan
menghidupkan malam dari bulan Ramadhan dengan ibadah seperti shalat, dzikir,
membaca al Qur’an dan lainnya guna untuk mendapatkan lailatul Qadr.[1]
Hal ini berdasarkan hadits :



 



مَنْ قَامَ لَيْلَةَ
الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ



 

Barangsiapa melaksanakan shalat pada
malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka
dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni
.” (HR. Bukhari)

 



Dan juga dalil dari amalan dari Nabi shalallahu’alaihi wassalam yang
melakukan I’tikaf guna mendapatkan malam kemuliaan tersebut.



 



Lalu apakah harus dengan I’tikaf supaya mendapatkan lailatul Qadar ?



 



Tidak, tidak ada satupun ulama yang mensyaratkan hal demikian. Setiap muslim
yang melakukan ketaatan di malam Qadar akan mendapatkannya sesuai dengan nilai
ibadah masing-masing.



 



I’tikaf bukanlah syarat untuk mendapatkan lailatul Qadar. Sepengetahuan
saya tidak ada satupun ulama madzab yang berpendapat demikian. I’tikaf adalah amalan
sunnah dari Nabi shalallahu’alaihi wassalam yang bertujuan untuk memaksimalkan
ibadah Ramadhan dan untuk mendapatkan malam Qadr dengan nilai yang lebih baik.





            Pernah ditayakan kepada al Imam Dhahak
rahimahullah : “Bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang nifas dan haid,
musafir dan orang yang tidur, apakah mereka bisa mendapatkan malam lailatul
qadar
?”



            Beliau menjawab : “Iya, semua orang yang Allah terima amal
mereka akan mendapatkan bagian lailatul qadar.”[2]



            Sehingga bisa dikatakan bahwa I;tikaf itu amalan sunnah agar bisa maksimal
mendapatkan lailatul Qadr. Karena Ketika I’tikaf selain pahala I’tikafnya
sendiri, seseorang yang sedang berada di masjid juga tercegah dari maksiat dan
sebaliknya bisa tergerak melakukan ketaatan lainnya.



 



Tapi jika ternyata
Ketika I’tikaf seseorang hanya melakukan acara pindah tidur dan aktivitasnya sebagian
besar hanya usap-usap HP, sibuk main sosmed, ya bisa jadi yang di rumah tapi
sibuk ibadah pahala malam Qadrnya bisa lebih utama.



 



Wallahu a’lam.



 










[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al
Kuwaitiyyah

(35/362).







[2] Al Lathaif Al-Ma’arif hal. 341