Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

Ahlus Sunnah di Antara Dua Penyimpangan

 


Oleh : Muhammad Atim



 



Kelompok Ahlus Sunnah dalam aqidah
khususnya berkaitan dengan sifat-sifat Allah menghadapi dua penyimpangan besar
yang saling berlawanan.



Pertama, mu'athilah (kelompok yang
menta'thil, menafikan sifat-sifat Allah). Mungkin mereka bermaksud ingin
mensucikan Allah dari kesamaan dengan makhluk, tetapi berujung pada pengabaian
dan penolakan terhadap nash-nash yang qath'i yang menyebutkan sifat-sifat
Allah.



Kedua, musyabbihah (kelompok yang
menyerupakan Allah dengan makhluk). Mungkin maksudnya ingin menetapkan setiap
apa yang ada dalam nash, tetapi terjerumus pada kesalahan pemahaman,
sifat-sifat tersebut digambarkan tidak ada bedanya dengan makhluk, menyematkan
kepada Allah apa yang khusus bagi makhluk, yaitu sifat kebaruan (hawadits).



Ta'alallahu 'amma yaquluna 'uluwwan
kabira. Allah Maha Tinggi dari apa yang mereka katakan.



Kelompok Ahlus Sunnah berada di
antara dua garis penyimpangan ini, jika tidak berhati-hati bisa saja terjerumus
kepada salah satunya.



Ada diantara kelompok Ahlus Sunnah
yang fokus kekhawatirannya lebih tertuju kepada kaum mu'athilah, sangat
berhati-hati dari terjerumus kepada ta'thil/mengabaikan nash, sehingga mereka
memilih metode bersungguh-sungguh dalam menetapkan apa yang ada dalam nash
(itsbat). Sehingga mereka "nyaris" menolak ta'wil, karena bisa
mengakibatkan terjerumus pada ta'thil. Mereka menetapkan sifat Allah
sebagaimana zahirnya dalam nash. Jika dipahami kekhususannya bagi Allah, mereka
tetapkan makna itu. Jika tidak dipahami, maka di-tafwid, diserahkan maknanya
kepada Allah. Ini adalah kelompok Hanabilah, atau sering disebut Atsariyyah.
Termasuk di antara ulamanya Ibnu Taimiyyah, meskipun beliau bukan satu-satunya,
terlepas dari ada pilihan-pilihan ijtihadnya sendiri yang berbeda dari para
ulama Hanabilah yang lainnya. Yang kemudian corak beliau diikuti oleh kelompok
yang saat ini sering disebut Wahabi atau Salafi. Jadi secara asal sebenarnya
mereka dalam lingkup madzhab Hanbali.



Kelompok ini masih dalam koridor
Ahlus Sunnah karena selain melakukan itsbat (menetapkan setiap apa yang ada
dalam nash), mereka juga masih menolak tasybih (menyerupakan Allah dengan
makhluk). Namun kelompok ini menghadapi bahaya besar, yaitu jika tidak
berhati-hati bisa terjerumus kepada kelompok musyabbihah.



Berikutnya ada kelompok Ahlus Sunnah
yang fokus kekhawatirannya lebih tertuju kepada kaum musyabbihah. Mereka sangat
khawatir dari terjerumus kepada menyerupakan Allah dengan makhluk, maka metode
yang mereka gunakan adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan tanzih
(mensucikan Allah dari kesamaan dengan makhluk). Nash-nash yang secara zahirnya
berpotensi menimbulkan anggapan kesamaan dengan makhluk, mereka atasi dengan
metode ta'wil. Atau paling tidak, mentafwid, menyerahkan makna hakikatnya
kepada Allah. Ini adalah kelompok Asy'ariyyah dan Maturidiyyah.



Kelompok ini masih dalam koridor
Ahlus Sunnah, karena selain mereka melakukan tanzih (mensucikan Allah dari
kesamaan dengan makhluk), mereka juga masih melakukan itsbat, menetapkan setiap
yang ada dalam nash. Namun mereka menghadapi bahaya besar jika tidak
berhati-hati, dengan metode ta'wil yang digunakan bisa terjerumus kepada
kelompok mu'athilah.



Jika kita mampu memahami batasan
ini, maka insya Allah kita akan mudah memahami bahwa ketiga madzhab aqidah
tersebut masih ada dalam koridor Ahlus Sunnah. Karena mereka sepakat secara
ushul, yaitu melakukan itsbat dan tanzih atau menolak tasybih. Sedangkan
tentang ta'wil masih masuk kategori khilafiyyah. Karena faktanya, kelompok
Hanabilah pun tidak sepenuhnya menolak ta'wil, ada ta'wil-ta'wil yang diterima,
meskipun sebagian mereka tidak menamakannya sebagai ta'wil. Karena ta'wil tidak
serta merta berarti ta'thil. Setelah nash itu ditetapkan, bagaimanakah memahami
dan menyikapinya? Apakah dengan mengitsbat makna zahirnya, ataukah di-tafwid,
ataukah dita'wil? Di sanalah letak perbedaannya.



Perbedaan dari kelompok Ahlus Sunnah
ini sebenarnya sederhana. Tetapi, bisa jadi karena kurang memahami pendapat
yang berbeda dan dalil-dalilnya sehingga terjadi kesalahpahaman, kurang bisa
berlapang dada dengan perbedaan pendapat, diprovokasi oleh pihak-pihak
tertentu, sehingga tertanam kebencian yang mendarah-daging, maka tampaklah dari
waktu ke waktu perpecahan, permusuhan bahkan pertumpahan darah. Wal 'iyadzu
billah.



Sebagai sesama muslim, harusnya
saling mengayomi, mengedepankan husnuzhan bukan su'udzan. Bersungguh-sungguh
untuk menjaga saudaranya agar tetap berada dalam kebenaran. Jika ada kesalahan
ucap, maka kedepankanlah untuk memberi udzur, dan arahkan bahwa ia tidak
bermaksud melakukan penyimpangan. Bukan malah bersemangat untuk melontarkan
tuduhan. Bahkan maksudnya malah ditarik-tarik dan dipaksakan agar terjerumus
kepada penyimpangan. Bahwa Hanabilah meskipun batas garisnya dekat dengan
musyabbihah, mereka bukanlah musyabbihah. Dan Asy'ariyyah-Maturidiyyah meskipun
batas garisnya dekat dengan mu'athilah, mereka bukanlah mu'athilah. Semuanya
masih sama-sama Ahlus Sunnah.



Wallahu A'lam.



Semoga Allah menjaga dan membimbing
kita semua.