A. Hassan dan Permasalahan Sifat Allah
Oleh : Muhammad Atim
Berkenaan dengan sifat-sifat Allah yang dianggap menimbulkan
anggapan kesamaan dengan makhluk (sifat khobariyyah), para ulama sejak dahulu
berbeda pendapat apakah harus dita’wil ataukah harus dibiarkan sebagaimana
makna zahirnya. Tidak dipungkiri dari kedua belah pihak ada yang bersikap
tasyaddud (keras), bahkan sampai hari ini. Yaitu menyesatkan dan membid’ahkan
satu sama lain. Namun, bersikap toleransi, tawasuth, dan memposisikannya
sebagai permasalahan ijtihadiyyah, furu dan khilafiyyah dalam aqidah adalah
lebih tepat. Tidak menjadikannya sebagai alasan untuk menyesatkan, apalagi
mengkafirkan. Tetapi sebagai khilafiyyah yang boleh dicari mana pendapat yang
rojih (lebih kuat) dari yang marjuh (lemah), bukan antara yang haq dan batil.
Sikap seperti ini diantaranya ditampilkan oleh para ulama yang
mengusung gerakan pembaharuan Islam. Di Indonesia, di antaranya A. Hassan,
sebagai guru besar Persatuan Islam (PERSIS), yang merupakan organisasi pembaharuan
Islam.
Dalam tulisan A. Hassan dalam bukunya Kitab Tauhid berikut,
akan terlihat bagaimana beliau menyikapi permasalahan sifat Allah tersebut.
Yaitu beliau memposisikannya sebagai permasalahan ijtihadiyyah yang boleh
dipilih ijtihad mana yang lebih kuat. Beliau tidak menolak ta’wil, selama
ta’wil itu memiliki dasar yang jelas. Tentang sifat tangan misalnya, beliau
membolehkan tangan Allah itu diartikan dengan kekuasaan Allah, karena menurut
bahasa Arab, di antara makna tangan adalah kekuasaan. Namun, beliau juga
membolehkan memahaminya dengan makna zahir, yaitu diartikan tangan Allah,
tetapi dengan tidak menyerupakannya dengan makhluk. Tangan yang sesuai dengan
keagungan-Nya. Begitu pula dengan mata. Di sini beliau membolehkan untuk
menggunakan metode ta’wil, juga membolehkan menggunakan metode itsbat makna
zahir dengan mentafwidh kaifiyyahnya. Namun terkadang beliau menguatkan salah
satunya, yaitu tentang makna istiwa, beliau lebih memilih memahaminya dengan
makna zahir.
Apakah Allah
bertangan, bermata, bermuka,
bersemayam, beserta berhampiran (dekat) ?
Di dalam Al-Qur’an ada terdapat ayat-ayat artinya : “Tangan
Allah itu di atas tangan-tangan mereka” (QS. Al-Fath :10). “Di tangan-Mu
lah ada kebaikan” (QS. Ali Imran : 26). “Apa yang melarangmu daripada
sujud kepada (makhluq) yang Aku telah jadikan dengan kedua tangan-Ku” (QS.
Shad : 75). Apa maknanya ? Apakah Allah bertangan ?
Dalam bahasa Arab, kalimah tangan atau dua tangan itu, terpakai
juga buat arti pemberian, kekuasaan, diri dan sebagainya. Jadi, ayat-ayat itu,
boleh kita pakaikan salah satu dari arti-arti majazi yang tersebut, menurut
tempat yang layak bagi masing-masing.
Boleh juga kita berkata, Allah bertangan, tetapi tidak sama dengan
makhluq,
Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang artinya : “Buatlah
kapal itu di (hadapan) mata-mata Kami” (QS.
Hud : 73). “Sesungguhnya engkau di (hadapan) mata-mata Kami” (QS.
Ath-Thur : 48). Apa maksudnya ? Apakah Allah mempunyai mata ?
Di dalam bahasa Arab, dan di lain-lain bahasa, kalimah mata itu,
terpakai juga buat arti perhatian, anggapan, pengawasan, pengetahuan dan
sebagainya.
Sering orang-orang berkata : “Si anu diperanakkan di hadapan mata
saya”. Maksudnya saya tahu kapan dia diperanakkan. “Pada penglihatan saya,
perkara itu tak baik dijalankan.” Maksudnya menurut anggapan saya, perkara itu
tak baik dikerjakan. “Perkara ini selamanya di hadapan mata saya”. Maksudnya,
perkara ini selalu di dalam pengawasan dan perhatian saya.
Oleh sebab yang demikian, maka di ayat-ayat tadi, boleh dipakaikan
salah satu makna majazi yang tersebut itu, menurut tempat yang pantas buat
masing-masing.
Boleh juga kita berkata : Allah melihat dengan mata, tetapi
mata-Nya tidak sama dengan kita.
Di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits ada banyak tersebut kalimah
wajhu rabbika, wajhullah, dan sebagainya. Adakah kalimah-kalimah itu berarti
muka Allah ?
Di dalam bahasa Arab, kalimah liwajhillah, liwajhi rabbika, dan
sebagainya itu, sungguhpun salinan kalimahnya : karena muka Allah, karena muka
Tuhanmu, tetapi makna yang terpakai ialah, karena Allah, karena Tuhanmu. Jadi,
di dalam susunan seperti itu, kalimah wajhu tidak diartikan, atau bisa juga
diartikan dengan diri. Jadi, maknanya : karena diri Allah, karena diri Tuhanmu.
Di dalam Al-Qur’an ada tersebut ayat yang artinya : “Rahman itu
istiwa di atas arsy” (QS. Thaha : 5). Apa maknanya itu, Allah duduk di atas
arsy ?
Istiwa itu asal maknanya, ialah bersemayam, duduk dan sebagainya.
Ulama Salaf, yaitu ulama Islam zaman dahulu, berkata, bahwa firman
Allah yang Ia bersemayam di atas arsy itu, kita percaya lantaran Ia berkata
sendiri, tetapi caranya, kita tidah tahu, yakni tentulah dengan cara yang layak
dan patut dengan kesucian-Nya daripada sifat-sifat kemakhlukan.
Sebagian dari ulama Khalaf, yaitu ulama mutaakhirin berkata,
maknanya itu : Allah memerintah di atas arsy, atau Allah berkuasa di atas arsy.
Jadi, istiwa itu, mereka ta’wilkan dengan arti istaula : memerintah, berkuasa.
Ulama ini, kalau kita bertanya : apakah Allah memerintah atau
berkuasa itu sama caranya dengan makhluk ? Tentu mereka menjawab : tidak sama
dengan makhluk.
Lantaran itu, bukankah lebih selamat dan lebih mudah, kita berkata
: Allah bersemayam di atas arsy, tetapi caranya tidak sama dengan makhluk ?
Apakah makna ayat-ayat “Allah beserta kamu di mana kamu ada” (QS.
Al-Hadid : 4). “Sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Al-Bara’ah : 40). “Kami
lebih hampir kepada (manusia) daripada urat nyawanya.” (QS. Qaf : 16).
Maksudnya, bahwa Allah beserta kita, dan hampir kepada kita, dengan
penjagaan-Nya, pemeliharaan-Nya, rahmat-Nya, bukan dzat-Nya.
(A. Hassan, Kitab Tauhid, hal. 26-28).
