Atsar (Dampak) Ilmu
Oleh : Muhammad Atim
Di antara kekeliruan model
pendidikan dan pembelajaran kita hari ini adalah mempelajari ilmu hanya sebatas
untuk pengetahuan/wawasan, keterampilan akademik dan kepuasan intelektual
belaka. Tak sedikit hal itu melahirkan sikap berbangga diri (ujub) dengan banyaknya
pengetahuan, merasa lebih tinggi dari orang lain dan merendahkan, berambisi
untuk tampil semata untuk pamer kehebatan, pada akhirnya yang dikejar adalah
pujian dan penghargaan secara duniawi.
Padahal, menuntut ilmu itu
semestinya selalu diperhatikan atsar/dampaknya pada diri. Apakah ada jejak rasa
yang hinggap di hati? Apakah ada tambahan iman? Apakah telah memberi perubahan
pada tingkah laku? Karena seperti inilah sejatinya ilmu yang bermanfaat,
melahirkan tambahan iman dan amal shaleh. Tentu hal ini bukan berarti
menghalangi kewajiban menyampaikan ilmu dan menegakkan hujjah. Tapi maksudnya
agar itu dilakukan dengan jiwa yang telah tersibgoh dengan ilmu tersebut.
Makanya jelas dalam konsep Islam, semakin bertambah ilmu semakin bertambah rasa
takut kepada Allah.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّه مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang takut kepada
Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama." (QS. Fathir : 28).
Inilah yang menjadi rahasia
keunggulan generasi sahabat. Selain mendapatkan sentuhan langsung dari
pendidikan Rasulullah saw, cara belajar mereka terhadap Al-Qur'an dan Sunnah
adalah berorientasi pada dampak penguatan iman dan pengamalannya. Wahyu menjadi
komando yang menggerakkan mereka. Sedangkan kita hari ini, meskipun Al-Qur'an
dan Sunnah ada di hadapan kita tanpa ada perubahan, tapi cara belajar kita
salah, hanya berorientasi pada pengetahuan dan keterampilan akademik belaka.
Setiap ayat Al-Qur'an atau hadits yang mereka terima, selalu memberi dampak
pada penguatan iman dan tambahan amal shaleh, begitupun dari ilmu yang
dihasilkan dari tadabur terhadap wahyu tersebut dan tafakkur terhadap alam
semesta, selalu mengantarkan kepada dzikir kepada Allah. Jika tidak dengan cara
seperti itu, meski banyak ayat Al-Qur'an yang dihapal dan hadits Nabi yang
dikuasai, ia hanya sampai tenggorokan saja tidak tembus ke dalam hati. Makanya
imam Syafi'i rahimahullah mengatakan :
ليس العلم ما حُفِظَ، العلم ما نَفَعَ
"Ilmu itu bukanlah yang
dihapal, tapi ilmu itu adalah yang memberi manfaat"
Ibnu Jama'ah rahimahullah
menambahkan penjelasan :
ومن ذلك دوام السكينة، والوقار
والخشوع والتواضع لله والخضوع.
"Di antara manfaat ilmu itu
adalah; senantiasa merasakan ketenangan, keteguhan diri/wibawa, khusyu',
tawadhu karena Allah dan tunduk"
Di antara nasihat yang ditulis oleh
imam Malik kepada Harun Ar-Rasyid rahimahumallah adalah :
إذا علمت علمًا فَلْيُرَ عليك أثره
وسكينته وسمته ووقاره وحلمه لقوله - صلى الله عليه وسلم -: العلماء ورثة الأنبياء.
"Apabila engkau telah
mengetahui suatu ilmu, maka lihatlah atsar/dampaknya, ketenangannya,
karakternya, kewibawaannya dan kesantunannya, berdasarkan sabda Nabi saw :
"Para ulama itu adalah pewaris para Nabi".
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu
berkata :
تعلموا العلم وتعلموا له السكينة
والوقار
"Pelajarilah ilmu, dan
pelajarilah untuk ilmu itu ketenangan dan kewibawaan"
Di antara Salaf mengatakan :
حق على العالم أن يتواضع لله في
سِرِّه وعلانيته ويحترس من نفسه ويقف على ما أشكل عليه.
"Adalah kewajiban bagi orang
yang berilmu untuk tawadhu karena Allah dalam kesendirian dan terang-terangannya,
menjaga dirinya dan mengatasi apa yang menjadi problem bagi dirinya".
(Ibnu Jama'ah, Tadzkirotus Sami wal
Mutakallim, hal. 48-49).
Semoga Allah melindungi kita dari
ilmu yang tidak bermanfaat. Aamiin
