Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

Ilmu Tasawuf, antara urgensi dan berhati-hati dari fitnahnya





Oleh : Muhammad Atim

 



 Pentingnya ilmu Tasawuf di zaman
ini, adalah ketika godaan-godaan dunia semakin besar dan deras. Memang di zaman
Rasulullah saw dan para sahabat godaan itu telah ada, tapi dari waktu ke waktu
godaan/fitnah semakin bertambah berat, hingga manusia menjumpai fitnah terbesar
akhir zaman menjelang kiamat, di antaranya fitnah dajjal.



Ilmu Tasawuf, sebagaimana maksud
dari ilmu ini, adalah untuk menguatkan dan memperbaharui keimanan, membersihkan
hati dari berbagai penyakitnya, dan menggapai ridha Allah dengan amal shaleh
terbaik. Kadar fardhu 'ainnya adalah dengan ilmu ini mampu menjaga keimanan,
menghindari penyakit hati yang membuat celaka seperti sombong, zalim, riya,
dusta, dsb, menjaga tercapainya pahala ibadah, yang disertai dengan kesadaran
ruhiyyah. Kadar fardhu kifayahnya adalah mampu membimbing orang lain dengan
ilmu ini, dan meluruskan kekeliruan-kekeliruan/syubhat-syubhat yang terjadi di
dalamnya. Sedangkan kadar kesunnahannya, seseorang dapat beribadah, berakhlaq
dan beradab dengan kualitas yang lebih baik.



Hanya saja, fakta sejarahnya
berbicara kepada kita, justru dalam ilmu tasawuf itu sendiri ada yang menjadi
fitnah. Alih-alih dapat menguatkan keimanan, justru malah terjerumus kepada
penyimpangan aqidah yang mendalam. Misalnya keyakinan wihdatul wujud
(menyatunya wujud Tuhan dengan makhluk) -na'udzu billah- Keyakinan seperti ini
berasal dari kristen yang menyakini menyatunya unsur ketuhanan (lahut) dengan
manusia/nabi Isa (nasut). Konsep ini pertama kali dilontarkan oleh Al-Hallaj
yang ia dihukum mati karenanya. Lalu diteruskan oleh Ibnu Arobi Al-Hatimi, dll.
Lalu keyakinan kemampuan mengurus alam (tashorruf) bagi orang yang telah
mencapai maqom tertentu. Diyakinilah adanya wali quthub, yaitu ghouts
satu-satunya di bumi, wali awtad dan abdal. Yang menjadi penyebab dijadikan
adanya tandingan bagi Allah. Terjadilah kemusyrikan yang besar, memohon
pertolongan (istighotsah) kepada selain Allah. Bahkan, seorang murid di awal
perjalanan suluknya agar jangan memohon kepada Allah, tapi memohon kepada
gurunya, karena gurunya telah mengenal Allah, sedangkan muridnya baru mengenal
gurunya. Tentu ini adalah kesesatan yang nyata. Menganggap kewalian melebihi
kenabian. Kultus terhadap guru yang mengharuskan kepasrahan total kepadanya,
memberikan apapun yang dimintanya, hingga menghalalkan yang haram. Bahkan
menjadi alat pemuas syahwat gila hormat, "pemerasan" harta untuk
memperkaya diri, dan pembodohan. Belum lagi kebid'ahan dalam cara ibadah yang
dibuat-buat, seperti tari-tarian, hingga seperti mabuk dan kegila-gilaan.
Menganggap dzikir dan shalawat tertentu lebih baik dari Al-Qur'an dan shalat.
Sampainya kepada hakikat dan ma'rifat dianggap boleh melampaui syariat.
Hakikatnya mereka tidak sampai kepada Allah, tapi sampai kepada tipuan iblis.
Akhirnya sibuk dengan menerka-nerka yang ghaib atas dasar kasyaf yang halu,
klaim karomah yang sulit dibedakan dari sihir dan perdukunan, yang justru
dengan itulah fitnah terbesar dajjal menipu manusia. Bukannya sibuk dengan
mujahadah menjalankan syariat, menetapi maqom-maqom pensucian jiwa seperti
keikhlasan, kejujuran dan ketawadhuan. Karena tidak ada hakikat dan ma'rifat
yang digapai tanpa iltizam dan istiqomah dalam syariat.



 Besarnya fitnah ini, hingga hampir
tidak ada tarekat-tarekat shufi pada zaman ini yang terlepas dari penyimpangan
dan kebid'ahan ini. Karena justru hal seperti itulah yang dijadikan jalan
pintas menuju klaim sampai pada maqom tertinggi, pembodohan dan digandrungi
masyarakat awam.



Sebenarnya, penyimpang-penyimpangan
atas nama tasawuf di atas telah diperingatkan oleh para ulama besarnya, para
ulama tasawuf yang ahlus sunnah. Sejak Junaid Al-Baghdadi, Al-Qusyairi,
Al-Ghazali, hingga Ahmad Zarruq dan seterusnya. Sehingga, kalau kita ingin
selamat dalam bertasawuf, maka ikutiah ulama-ulama yang lurus di dalamnya, yaitu
dengan mengkaji dan mengamalkan kitab-kitab karya mereka.



Terhadap tasawuf dan segala
problematikanya ini, ada kelompok yang tertipu dengan penyimpangannya.
Sebaliknya, ada kelompok yang menolak secara mutlak tanpa mau membedakan mana
tasawuf yang haq dan mana yang batil, hingga keras dan kakulah jiwa mereka
karena tidak mau melakukan proses pensucian jiwa melalui ilmu tasawuf yang haq
ini. Yang ketiga, ada kelompok yang mau membedakan mana tasawuf yang haq dan
mana yang batil. Mengambil yang haq dan membuang yang batil. Meneruskan peran
para ulama dalam membersihkan penyimpangan dan syubhat-syubhatnya. Kelompok
inilah, saya kira jelas tak diragukan lagi, yang layak diikuti. Karena karakter
kebenaran Islam itu selalu pertengahan (wasathiyyah). Pertengahan di antara dua
kebatilan.



Wallahu A'lam.