Tidak Alergi Fiqih Madzhab
Oleh : Muhammad Atim
Tak perlu kita alergi dengan belajar
fiqih madzhab, atau warisan para ulama dengan berbagai pandangan (madzhab)
dalam berbagai bidang keilmuan, karena hakikatnya, kita tidak akan mampu
mendapatkan ilmu, kecuali melalui warisan para ulama itu, sadar ataupun tidak.
Kalau kita mengakui keulamaan para imam seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan
Ahmad, dll, rahimahumullah, bahkan dengan berbagai keutamaan dan
keistimewaannya, maka kita mesti ingat sabda Nabi saw: "Para ulama itu
pewaris para Nabi". Jangan abaikan untuk meraih ilmu dari mereka, jangan
menghalangi, menutupi dan mempersempit diri untuk mendapatkan lautan ilmu yang
bermanfaat dari mereka.
Orang berpikir belajar fiqih madzhab
itu berarti taklid dan fanatik. Padahal tidak harus seperti itu. Justru kita
belajar dari mereka bagaimana mereka menyimpulkan sebuah hukum yang diramu dari
berbagai dalil (Al-Qur'an dan Sunnah) dan bagaimana penerapan perangkat
kaidah-kaidahnya. Dalam fiqih madzhab, seharusnya tidak hanya belajar hasil
kesimpulannya saja, tetapi kita juga bisa mempelajari bagaimana landasan
dalilnya, kecuali bagi yang sangat awam yang tidak mampu memahami dalil. Dari
sana kita belajar bagaimana cara kerja ijtihad mereka. Dan mudah-mudahan,
dengan terus mempelajari dan mendalami, kita bisa sampai kepada derajat
mujtahid (tentu dengan berbagai tingkatannya).
Belajar fiqih madzhab bukan berarti
harus mengikuti seluruh hasil ijtihad mereka. Tidak ada ulama yang mewajibkan
mengikuti seluruh ijtihadnya. Hanya nabi saja yang mutlak harus selalu diikuti.
Bagi orang yang sudah mampu mempelajari dalil, apalagi telah mencapai derajat
mujtahid, bebas saja ia memilih ijtihad mana yang akan diikuti berdasarkan
pemahamannya. Setiap orang wajib mengikuti ijtihad yang paling kuat yang ia
yakini, dengan kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
Jangan dibayangkan belajar fiqih
madzhab itu isinya semua perbedaan pendapat. Tidak. Justru banyak yang
disepakatinya. Banyak ijmanya. Karena tiada lain sumber mereka sama, yaitu
Al-Qur'an dan Sunnah, hal-hal yang qath'i dari keduanya tidak mungkin berbeda
pendapat.
Maka, dalam belajar fiqih madzhab,
tidak mengapa, bahkan bagus -bagi guru- untuk menjelaskan mana yang disepakati
dan mana yang menjadi perbedaan pendapat. Lalu menguraikan dalil-dalilnya.
Dengan penuh amanah dalam menyampaikannya. Dan tidak mengapa pula ia memberikan
pandangannya tentang pendapat yang paling kuat (rojih) dari berbagai perbedaan
itu.
Bagi yang sudah memiliki
pilihan-pilihan fiqih dan paham dalilnya, tidak perlu takut dan khawatir dalam
mempelajari fiqih madzhab. Karena kalau memang hujjah kita sudah kuat, toh
tidak akan goyah. Justru semakin memperkuat posisi hujjah kita. Membuka
cakrawala keilmuan, dan memperluas wawasan ijtihad dan perbedaan. Juga bisa
menumbuhkan sikap toleransi terhadap sesama muslim yang berbeda pilihan
ijtihad.
Seperti kajian yang saya lakukan
berikut ini, semoga Allah meridhainya dan mencatatnya sebagai amal shaleh
pemberat timbangan kebaikan, belajar fiqih dengan memanfaatkan kitab fiqih
madzhab Syafi'i. Meski -mungkin- tidak sedikit pilihan-pilihan fiqih saya yang
berbeda dengan madzhab Syafi'i.
Dalam hal rukun-rukun shalat, kalau
kita pelajari justru banyak yang disepakatinya daripada yang
diperselisihkannya. Misalnya niat itu tempatnya di hati. Tidak ada yang
menyangkal bahwa itu disepakati oleh seluruh ulama. Perbedaannya terletak
apakah dianjurkan dilafazhkan atau tidak. Bahasanya pun hanya dianjurkan, tidak
disunnahkan apalagi diwajibkan. Karena memang tidak ada contohnya langsung dari
Nabi saw. Sebagai ijtihad mereka dengan tujuan membantu menghadirkan niat dalam
hati, dan pelaksanannya pun dilakukan sebelum niat itu sendiri, sebelum takbirotul
ihrom, karena dianggapnya niat itu berbarengan dengan saat pekerjaan dilakukan,
yaitu dalam hal ini mulai berbarengan dengan takbirotul ihrom. Meski saya
memilih untuk tidak perlu melafazhkan niat.
Playlist
https://youtube.com/playlist...
(Muhammad Atim)
Kalau ingin ikut kajian ilmu-ilmu
syar'i secara rutin via zoom, silahkan isi form terlebih dahulu
https://forms.gle/JqLTfWqhDU2GfcQJ9
Lalu masuk groupnya :
https://chat.whatsapp.com/EZSwWqUVP9ECjlLkvj8QeW
Jika tidak ikut langsung via zoom,
tapi ingin mengikuti kajian melalui rekamannya saja, dan kajian-kajian
tertulisnya, silahkan ikuti group umumnya
Group 1
https://chat.whatsapp.com/LpeuFGkJzVD0PmF6dJR1Cv
Group 2
https://chat.whatsapp.com/HO2zZJItSGe9YR5RZc1HyZ
Channel telegram
