Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

Sentuhan Pendidikan dalam Surat Al-Fatihah

 


 Oleh : Muhammad Atim



 



بِسۡمِ
ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۝١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ ۝٢
ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۝٣ مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ ۝٤
إِیَّاكَ
نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ ۝٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰ
طَ
ٱلۡمُسۡتَقِیمَ ۝٦ صِرَٰ
طَ ٱلَّذِینَ
أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ ۝٧



“(1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih, Maha Penyayang. (2) Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. (3)
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (4) Yang Menguasai hari pembalasan. (5)
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon
pertolongan. (6) Tunjukilah kami jalan yang lurus.



(7) Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat atas
mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang
sesat.”



 



Pendahuluan



Ada hikmah yang besar mengapa surat Al-Fatihah selalu kita baca
dalam shalat, bahkan shalat kita tidak sah tanpa membacanya. Dilihat dari
namanya, yang paling populer adalah tiga nama, yaitu Al-Fatihah (pembukaan),
Ummul Qur’an (induk Al-Qur’an) dan As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang
diulang-ulang). Ia sebagai pembukaan dan induk Al-Qur’an ternyata merangkum
seluruh isi Al-Qur’an. Tidaklah surat-surat yang disebutkan setelahnya
melainkan penjabaran darinya. Kalau seluruh isi Al-Qur’an dirangkum maka isinya
tiga hal, yaitu aqidah, hukum dan kisah. Ketiganya ada dalam Al-Fatihah, aqidah
(ayat 1-4), hukum (ayat 5-6) dan kisah (ayat 7). Bahkan setiap kata yang
terdapat dalam Al-Fatihah mencerminkan seluruh isi Al-Qur’an. Karena Al-Fatihah
ini merangkum seluruh isi Al-Qur’an, dan merupakan intisari ajaran Islam, maka
wajar harus selalu kita ulang setiap hari, minimalnya 17 kali dalam shalat
wajib 5 waktu. Agar ia meresap ke dalam diri kita.



Kalaulah kita selalu menghayati makna-makna dari surat Al-Fatihah
ini, niscaya hidup kita akan selalu terbimbing. Namun sayangnya, tidak sedikit
dari kaum muslimin, meskipun rajin membaca Al-Fatihah, tetapi terluput dari
penghayatan terhadapnya. Bisa karena tidak paham isi kandungannya, dan juga
malas untuk mempelajarinya. Padahal Allah menurunkan Al-Qur’an ini untuk dihayati,
ditadaburi, agar ia menjadi petunjuk. Dan Allah telah memudahkannya untuk
dipelajari. “Tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka
telah terkunci?”
(QS. Muhammad : 24). “Sungguh Kami telah memudahkan
Al-Qur’an untuk diingat/dipelajari, maka apakah ada yang mau mengambil
pelajaran?”
(QS. Al-Qamar : 17,22,32,40).



Al-Qur’an ini seluruh isinya merupakan pendidikan bagi manusia.
Seluruh ayatnya, bahkan kata dan hurufnya mampu memberikan sentuhan pendidikan
terhadap diri manusia. Orang-orang hebat dari mulai Rasulullah dan para sahabatnya, dan orang-orang
shaleh setelahnya, karena mereka telah terdidik oleh Al-Qur’an. Itulah rahasia
kehebatan mereka. Maka sekarang kita tahu, mengapa generasi saat ini begitu
rusak padahal telah melalui proses “pendidikan”, karena tidak menjadikan
Al-Qur’an sebagai kurikulum dan panduan dalam pendidikannya. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah akan
mengangkat derajat dengan kitab ini (Al-Qur’an) kelompok-kelompok manusia, dan
merendahkan kelompok-kelompok lainnya karena meninggalkannya.”
(HR. Muslim
no.1897, Ahmad no.232). Rasulullah
mendidik umatnya dengan membacakan ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka dan
mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah”
(QS. Al-Baqarah : 151, Al-Jumu’ah : 2).
Dari ketiga unsur manusia (fisik, akal dan jiwa) yang paling penting untuk
diberi pendidikan dan pensucian adalah jiwanya, karena keselamatan manusia ada
pada kesucian jiwanya. “Sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa
itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams : 8-9). “Pada
hari tidak berguna harta dan keturunan, kecuali yang datang kepada Allah
membawa hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu’ara : 88-89). Maka mari kita
jadikan Al-Qur’an sebagai kurikulum dan panduan untuk mendidik diri kita dan juga
keluarga kita, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan
keluarga kalian dari api neraka”.
(QS. At-Tahrim : 11). Berbicara tentang
pendidikan, bukan hanya soal mendidik anak-anak kita, tetapi dimulai dengan
mendidik diri, lalu keluarga yang di dalamnya ada anak-anak kita, lalu
masyarakat secara umum.



 



 



Tadabur ayat 1



Basmalah (bismillahirrahmanirrahim) mengajarkan kita agar
memulai segala sesuatu dengan nama Allah. Karena segala hal di dunia ini kalau
tanpa disertai dzikir (menyebut dan ingat) kepada Allah akan sia-sia,
kesengsaraan di akhirat kelak adalah karena melupakan Allah. Di dalam ucapan
basmalah mengandung doa, komitmen dan keyakinan. Doa agar perbuatan yang kita
lakukan mendapat rahmat dan keberkahan dari Allah, komitmen untuk melakukannya
semata sebagai ibadah kepada Allah dan melaksanakannya sesuai syariat-Nya, dan
keyakinan bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali atas izin dan
kehendak Allah. Juga mengajarkan kita bahwa pendidikan yang pertama kali yang
harus kita lakukan adalah mengenal Allah. Jangan sampai kita sudah mengenalkan
banyak hal kepada anak-anak kita, tapi belum mengenalkan Allah. Dengan kata
lain, prioritas utama materi pendidikan adalah aqidah, dan inti dari aqidah
adalah iman kepada Allah.



Dari sekian banyak nama dan sifat-Nya, Allah mengenalkan Dirinya
pertama kali dengan sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha
Penyayang), yang keduanya berasal dari akar kata yang sama yaitu rahmat (kasih
sayang). Hal itu agar kita mau mendekat kepada-Nya, mengingat segala
kebaikan-Nya. Kalau bukan karena kasih sayang-Nya, kita tidak akan mendapatkan
segala ni’mat di dunia ini, juga tidak akan mendapatkan keni’matan surga di
akhirat kelak. Dan menunjukkan bahwa peluang untuk mendapatkan rahmat-Nya lebih
besar daripada mendapatkan kemurkaan-Nya. Asalkan kita mau berusaha untuk
mendekatkan diri kepada-Nya, Allah akan memberikan jalan kemudahan. Semua
ajaran/syariat dalam Islam tegak di atas prinsip rahmat ini. Allah mengutus
Rasulullah juga sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sifat
kasih sayang Allah inilah yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita, agar
ia mau dekat dengan Allah, mengadukan permasalahannya kepada Allah, selalu
berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.



Tadabur ayat 2



Hamdalah (alhamdulillahirabbil ‘alamin) adalah ucapan untuk
memuji dan bersyukur kepada Allah. Ini adalah poin penting dalam pendidikan,
karena ucapan ini sangat memberi pengaruh untuk bersikap positif dalam diri
kita. Kita memuji Allah dalam setiap keadaan, baik suka maupun duka, karena
setiap yang terjadi atas kehendak Allah, dan takdir-Nya adalah yang terbaik.
Semuanya mengandung hikmah. Kita ucapkan sebagai rasa syukur setiap selesai
melakukan sesuatu, dan atas segala ni’mat. Karena sebaliknya, sikap suka
mengeluh akan berpengaruh pada sikap negatif dalam diri kita. 



Allah layak untuk dipuji karena Dia adalah Rabb/Tuhan semesta alam.
Rabb dalam arti pencipta, pengatur, dan penguasa. Alam adalah segala sesuatu
selain Allah, termasuk manusia, langit, bumi dan segala isinya. Seluruh alam
ini adalah makhluk-Nya, ada dalam kekuasaan-Nya. Kalau keyakinan ini selalu
kita tanamkan, maka tidak akan ada kekhawatiran dalam hidup kita, karena
semuanya tidak akan keluar dari pengaturan Allah. Maka, interaksi kita dengan
alam ini harus menyampaikan kita kepada perasaan iman dan mengingat Rabbnya.
Alam itu sendiri berasal dari kata ‘alamah (tanda), artinya Allah
menjadikannya sebagai tanda akan keberadaan, keesaan dan kekuasaan-Nya. Maka
ini menjadi metode dalam menanamkan iman kepada Allah, yaitu dengan mentafakuri
alam semesta. Maka segala ilmu yang kita pelajari tentang alam semesta ini,
seharusnya dikaitkan dengan iman kepada Allah.



Tadabur ayat 3



Kemudian disebutkan kembali sifat Ar-Rahmanir Rahim, agar
kita mengingat bahwa pengaturan Allah di alam ini dilakukan atas dasar kasih
sayang, tidak dengan kebengisan dan kezaliman. Semakin kita tahu tentang
hakikat di alam ini, maka akan semakin menyadari kasih sayang Allah yang begitu
besar untuk seluruh makhluk-Nya.



Tadabur ayat 4



Lalu disebutkan “Yang Menguasai hari pembalasan”. Ini adalah
agar kita menanamkan iman kepada hari akhir. Selain Allah berkuasa di dunia,
Allah juga berkuasa di hari pembalasan kelak. Bahkan di ayat ini disebutkan
secara khusus sifat Malik (penguasa), dan dikaitkan secara khusus kepada
hari pembalasan, ini menunjukkan bahwa Allah akan menampakkan sejelas-jelasnnya
kekuasaan-Nya di hari kiamat, semua manusia dan semua makhluknya akan mengakui
kekuasaan-Nya. Berbeda dengan ketika di dunia, bisa saja sebagian besar manusia
tidak menyadari kekuasaan Allah, tidak beriman dan tidak takut kepada Allah,
bahkan tidak sedikit para penguasa yang berbuat zhalim dan sewenang-wenang,
karena memang dunia ini sebagai ujian.



Ini mengajarkan kepada kita agar menjadikan orientasi pendidikan
dan orientasi hidup kita adalah untuk mengejar kebahagiaan di akhirat, bukan
dunia. Dunia hanya dijadikan perantara saja untuk kebahagiaan akhirat.
Prinsipnya “kejarlah akhirat, dan jangan lupakan bagian di dunia” (QS. Al-Qashash
: 77), bukan sebaliknya. Artinya, kita fokuskan seluruh hidup kita untuk meraih
kebahagiaan di akhirat dengan beriman dan beramal shaleh, adapun dunia sekedar
memenuhi kebutuhan saja. Maka rusaknya pendidikan kita, adalah ketika
orientasinya serba duniawi.



Juga agar kita menanamkan keyakinan, bahwa setiap perbuatan yang
kita lakukan akan ada balasannya di akhirat kelak, dan tidak akan bisa mengelak
dari kekuasaan Allah untuk mempertanggungjawabkannya. Berbeda dengan di dunia,
bisa saja orang terhindar dari hukuman di dunia.



Dalam ayat-ayat sebelumnya mengandung dua metode pendidikan yang
mesti dilakukan secara seimbang, yaitu targib (memberi rangsangan dan motivasi)
agar tumbuh sikap roja (penuh harap), dan tarhib (memberi peringatan akan
hukuman) agar tumbuh sikap khouf (rasa takut). Yaitu Allah memperkenalkan
diri-Nya dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim sebagai sebuah
rangsangan agar tumbuh rasa penuh harap kita kepada kasih sayang Allah. Lebih
jauhnya di dalam Al-Qur’an dijelaskan secara detail tentang surga, sebagai
keni’matan yang sesungguhnya, agar kita terangsang untuk mendapatkannya. Lalu
Allah memperkenalkan diri-Nya dengan sifat “Yang menguasai hari pembalasan”
adalah sebagai sebuah peringatan akan adanya siksaan bagi orang yang durhaka
kepada-Nya, hal ini agar tumbuh rasa takut kepada Allah, takut akan siksa-Nya
yang besar. Lebih jauhnya di dalam Al-Qur;an dijelaskan secara detail tentang
neraka, agar kita bersungguh-sungguh untuk terhindar darinya. Rasa penuh harap
dan rasa takut ini mesti selalu ada dalam diri orang beriman, agar ia stabil
dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah.



Tadabur ayat 5



Keyakinan-keyakinan yang tertanam kuat itu, selanjutnya melahirkan
komitmen, yaitu kita menyatakan “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan
hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
Karena ini komitmen
pernyataan, maka bentuk kalimatnya secara langsung “Hanya kepada Engkaulah”.
Komitmen ini selalu kita baca dan selalu kita ingat, bahwa hidup kita
semata-mata untuk beribadah kepada Allah, dan hanya kepada Allah, artinya
tauhid, tidak menyekutukan-Nya.



Pendidikan selanjutnya setelah mendidik aqidah, adalah mendidik
ibadah. Dimulai dari ibadah yang paling utama yaitu shalat. Lalu ibadah-ibadah
lainnya baik berkaitan dengan ibadah ritual/mahdhah maupun ghair mahdhah
seperti muamalah dengan sesama manusia. Karena hukum syariat Islam itu lengkap
dan sempurna menyangkut seluruh aspek kehidupan, berisi rambu-rambu dalam
setiap aktifitas manusia. Dalam pendidikan ibadah, diajarkan standar sah ibadah
yaitu hukum fiqihnya, dan diajarkan pula penyempurna kualitas ibadahnya yaitu
akhlaq atau adab. Kalau ibadah ingin lebih berkualitas tentu harus diiringi
dengan akhlak atau adabnya, misalnya shalat diiringi kekhusyuan dan merasa
selalu diawasi oleh Allah, begitu pula akhlak kepada sesama manusia, dan kepada
alam sekitar.



Dalam ayat ini kita juga diajarkan prinsip mendahulukan kewajiban
sebelum hak. Beribadah itu adalah kewajiban kita, sedangkan memohon pertolongan
adalah hak kita yang kita mohonkan kepada Allah. Memang Allah senang jika hamba-Nya
senantiasa berdoa kepada-Nya, tetapi sebagai adab kepada Allah, dan juga syarat
dikabulkannya doa kita, adalah kita menunaikan kewajiban kita terlebih dahulu.
Allah berfirman: “Aku akan mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia
berdoa kepada-Ku. Maka penuhilah seruan-Ku dan berimanlah kepada-Ku, agar
mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Baqarah : 186). Prinsip ini juga bisa
kita terapkan dalam hubungan sesama manusia, yaitu jangan sampai kita banyak
menuntut hak, tetapi tidak melakukan kewajiban dengan maksimal.



Menggunakan kata “kami” dalam ayat ini menunjukkan pentingnya
kebersamaan dalam beribadah dan melakukan segala kebaikan, harus ditumbuhkan
sikap saling membantu antara satu sama lain.



Tadabur ayat 6



Untuk menjalankan komitmen dalam beribadah, tidak cukup
mengandalkan kemampuan diri saja, tetapi mesti diiringi banyak berdoa kepada
Allah. Maka di sini kita diajarkan selalu berdoa : “Tunjukilah kami jalan
yang lurus’.
Di sini kita senantiasa memohon hidayah kepada Allah, meskipun
kita telah berada dalam hidayah Islam, artinya memohon ketetapan agar hidayah
itu selalu kita pegang hingga akhir hayat dan juga memohon tambahan hidayah.
Baik itu berupa hidayah dilalah, yaitu berupa ilmu yang bermanfaat, dan juga
hidayah taufik, yaitu berupa bimbingan untuk mengamalkannya. Karena keselamatan
itu terletak pada menggabungkan antara ilmu dan amal. Berdoa memohon petunjuk
jalan yang lurus ini mesti selalu kita panjatkan, karena dalam hidup ini kita
menemui banyak masalah yang perlu kita ketahui solusi penyelesaiannya. Agar
kita diarahkan kepada solusi yang dapat menyelamatkan kita. Jalan keselamatan
itu tiada lain adalah jalan Islam, satu-satunya agama yang diridhai Allah, yang
bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan segala ilmu yang dilahirkan dari
keduanya. Maka inilah yang harus selalu kita pelajari untuk petunjuk hidup
kita. Ia disebut jalan yang lurus, karena jalannya itu lurus menuju keridhoan
Allah. Sedangkan jalan-jalan kesesatan adalah jalan yang bengkok yang
bermacam-macam, tetapi ujungnya akan berakhir dalam siksa Allah, yaitu neraka.



Tadabur ayat 7



Mempelajari jalan yang lurus tidak cukup dengan konsepnya saja,
tetapi juga perlu mengetahui orang-orang yang berada di atasnya, dan mengetahui
pula orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus. Maka doanya kita
teruskan, Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat atas mereka,
bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”
Ini
menunjukkan pentingnya mempelajari kisah. Dalam Al-Qur’an disebutkanlah
kisah-kisah orang yang berada di jalan yang lurus itu, yaitu mereka yang telah
diberi ni’mat oleh Allah, yang tafsirnya ada dalam QS. An-Nisa ayat 69, yaitu
para nabi, shiddiqin (orang-orang yang kuat kepercayaannya kepada para Nabi),
syuhada (orang-orang yang mati di jalan Allah) dan orang-orang shaleh (secara
umum). Disebutkan pula kisah-kisah orang-orang yang melenceng dari jalan yang
lurus. Di sini disebutkan dua golongan yaitu mereka yang dimurkai, Rasulullah menyebutkan
sebagai contohnya adalah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang sesat,
Rasulullah menyebutkan contohnya adalah orang-orang
Kristen. Meskipun keduanya sama-sama dimurkai dan sesat. Tetapi ada ciri khas
yang membedakannya, yaitu bahwa orang Yahudi tahu ilmunya tetapi tidak mau
mengamalkannya, sedangkan Kristen mau beramal tapi tanpa ilmu. Selain kedua
kelompok tersebut, Allah juga menyebutkan kisah-kisah yang sesat lainnya
seperti Fir’aun, Qarun dan berbagai kaum para Nabi. Agar menjadi pelajaran bagi
kita.



Pelajaran kisah ini menunjukkan pentingnya keteladanan dalam
pendidikan. Sehingga menjadi sebab pula rusaknya pendidikan adalah karena tidak
adanya keteladanan. Selain orang tua dan para pendidik mesti menjadi teladan,
juga perlu ditanamkan kisah-kisah ini. Maka harus ditanamkan kisah Nabi
Muhammad karena dia adalah teladan yang sempurna
dan yang paling utama. Agar ia dijadikan teladan dalam setiap kehidupan. Begitu
pula kisah-kisah para nabi lainnya, lalu kisah para sahabat Rasul, kisah para
tabi’in dan para ulama dan orang-orang shaleh setelahnya. Jangan sampai
anak-anak kita, bahkan kita sendiri, hampir tidak kenal dengan mereka. Padahal
mereka adalah sumber keteladanan yang sangat kaya. Perlu pula dicari dan
dikenalkan kepada orang-orang yang alim (ahli ilmu agama) dan orang-orang
shaleh yang ada saat ini, juga dijaga pergaulannya agar ia hanya bergaul dan
berteman dengan orang-orang shaleh saja, dan berada di lingkungan orang-orang
yang shaleh. Ini semua dalam rangka menumbuhkan akhlak mulia dalam diri.



Selain itu, dikenalkan pula orang-orang yang telah tersesat,
sebagaimana banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an dan juga dalam hadits, serta
disampaikan balasan yang mereka peroleh. Hal itu agar menjadi pelajaran untuk
dihindari, bukan untuk ditiru. Juga jika mengetahui orang-orang yang berbuat
keburukan pada saat ini, dijadikan sebagai pelajaran untuk dihindari. Meskipun
kepada mereka yang masih hidup, ditanamkan juga sikap kasihan dan mau berusaha
mengajaknya untuk sadar dan bertaubat, dengan cara yang lembut sebagaimana
dicontohkan oleh Rasulullah , dan juga
mendoakannya agar mendapat hidayah.



Dalam ayat ini pula kita diajarkan adab kepada Allah dalam berdoa,
yaitu menyandarkan kebaikan kepada-Nya, dan tidak menyandarkan keburukan
kepada-Nya. Yaitu ketika menyebutkan keni’matan dengan kalimat “Engkau telah
beri ni’mat”,
ini disandarkan kepada Allah. Sedangkan ketika menyebutkan
kemurkaan dan kesesatan, tidak disandarkan kepada Allah, dengan kalimat “Mereka
yang dimurkai dan mereka yang sesat”.
Sesuai dengan salah satu doa iftitah
yang menyebutkan “Kebaikan
itu seluruhnya ada pada kedua tangan-Mu, dan keburukan tidak dinisbatkan
kepada-Mu”.
Hal itu karena keburukan yang didapatkan oleh manusia, dan
keburukan sesungguhnya adalah kedurhakaan di dunia dan siksaan di neraka,
tidaklah ditetapkan begitu saja secara zalim, tetapi ditetapkan secara adil
sebagai balasan bagi manusia itu sendiri yang melakukannya, karena mereka telah
diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup mereka. Allah adalah pemberi
balasan yang seadil-adilnya.



Demikianlah sentuhan pendidikan yang dapat saya kemukakan dari
surat Al-Fatihah teramat mulia dan luas kandungannya ini, semoga bermanfaat.



Wallahu A’lam.