Aqidah Madzhab Salaf Tidak Hanya Dibawa Oleh Ibnu Taimiyyah Dan Pengikutnya
Oleh : Muhammad Atim
Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan para ulama Hanbali lainnya, serta
Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan madrasahnya (wahabi), tiada lain sejatinya
mereka mengusung aqidah madzhab Salaf. Namun bukan berarti saya harus setuju
dalam segala hal, saya tidak taklid apalagi fanatik. Banyak hal yang tidak saya
setujui dari mereka. Terutama sikap keras dan berlebih-lebihan dalam
memposisikan madzhab Asy'ari dan Maturidi. Saya sejauh ini masih
mengkategorikan mereka termasuk madzhab ahlus sunnah. Juga para pengikutnya
yang sempit dalam memahami agama dan memahami salaf, gampang membid'ahkan dan
mengkafirkan, bahkan karena kebodohan mereka, akhirnya terjerumus juga kepada
aqidah tajsim, disamping selalu dipancing-pancing oleh pihak asy'ari. Oleh
karena ulah sebagian oknum wahabi itu, maka menjadi buruklah citra aqidah
salaf. Di samping kalangan ahli kalam asy'ari pun membuat citra buruk aqidah
madzhab salaf ini dengan label wahabi.
Padahal, sebenarnya mereka membawa pemahaman yang benar tentang
aqidah madzhab salaf, atau dengan kata lain membawa ijtihad yang dapat
diterima. Apakah itu? Yaitu menetapkan setiap apa yang Allah sifatkan untuk
Dirinya dalam berbagai nash, sesuai dengan zahirnya, baik lafazh maupun
maknanya. Tidak perlu memaksakan diri untuk menta'wil, karena zahir yang
dimaksud adalah yang layak bagi Allah, bukan zahir yang serupa dengan makhluk.
Menetapkan makna zahir itu adalah yang lebih tepat dipahami dari
madzhab salaf, dan yang dimaksud dengan salaf di sini adalah generasi tabi'ut
tabi'in karena perkataan-perkataan merekalah yang dinukil dalam perkara ini,
bukan tafwidh. Walaupun tafwidh itu sendiri sebenarnya dekat. Tidak terlalu
jauh pertentangannya. Di sini saya tidak sepakat dengan Ibnu Taimiyyah yang
menyebut tafwidh itu adalah tajhil (pembodohan), sebenarnya ia bukan tajhil.
Itsbat makna zahir ini tidak hanya dibawa oleh Ibnu Taimiyyah
(w.728 H) dan pengikutnya. Ibnu Taimiyyah hanya menampilkan kembali dari pendahulunya,
dan dari para ulama salaf, dan memperkuat dari sisi hujjah-hujjahnya. Jauh
sebelum Ibnu Taimiyyah, banyak para ulama lain yang membawa pemahaman yang
serupa, misalnya para ulama dari kalangan madzhab Maliki seperti Ibnu Abi Zaid
Al-Qairowani (w.386 H) dan Ibnu Abdil Bar (w.463 H). Misalnya Ibnu Abi Zaid
Al-Qairawani berkata dalam muqaddimah risalahnya :
وأنه
فوق عرشه المجيد بذاته
"Dan bahwasannya Dia di atas arsy-Nya yang mulia dengan
Dzatnya"
Ibnu Abdil Bar mengatakan :
أهل
السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة كلها في القرآن والسنة والإيمان بها
وحملها على الحقيقة لا على المجاز إلا أنهم لا يكيفون شيئا من ذلك ولا يحدون فيه
صفة محصورة وأما أهل البدع والجهمية والمعتزلة كلها والخوارج فكلهم ينكرها ولا
يحمل شيئا منها على الحقيقة ويزعمون أن من أقر بها مشبه وهم عند من أثبتها نافون
للمعبود والحق فيما قاله القائلون بما نطق به كتاب الله وسنة رسوله وهم أئمة
الجماعة والحمد لله
"Ahlus Sunnah sepakat untuk menerima semua sifat-sifat yang
datang di dalam Al-Qur'an dan Sunnah, mengimaninya dan mengarahkannya kepada
makna hakikat, tidak kepada majaz, hanya mereka tidak menerangkan kaifiyyatnya
sedikitpun dari hal itu dan tidak menentukan batasan sifatnya. Adapun ahli
bid'ah, jahmiyyah dan mu'tazilah, seluruhnya, dan juga Khowarij, semuanya
mengingkarinya. Mereka tidak membawanya sedikit pun kepada hakikatnya, mereka
menganggap orang yang menetapkannya adalah musyabbih (yang menyerupakan Allah
dengan makhluk), sedang mereka menurut orang yang menetapkannya justru
menafikan (sifat) Allah Al-Ma'bud (Yang Disembah). Kebenaran ada pada orang
yang berkata sebagaimana dikatakan oleh kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya,
mereka adalah para imam (ulama) kelompok (ahlus sunnah) ini.
Alhamdulillah." (At-Tamhid, 7/145).
Karena pemahaman menetapkan makna zahir inilah pemahaman salaf,
yaitu makna zahir yang layak bagi Allah. Mereka tidak terpengaruh oleh metode
ilmu kalam.
Lalu datanglah orang-orang yang menggunakan metode ilmu kalam
mengatakan bahwa "menetapkan makna zahirnya berarti menyerupakan Allah
dengan makhluk, sehingga tidak boleh dimaknai dengan makna zahir". Ini
adalah pemahaman baru yang berbeda dari sebelumnya, atau kalau digunakan oleh
para ulamanya, bisa disebut sebagai ijtihad baru dari mereka. Ini sebagaimana
diinformasikan oleh Adz-Dzahabi berikut ini :
المتأخرون
من أهل النظر قالوا مقالة مولدة ما علمت أحدا سبقهم بها، قالوا: هذه الصفات تمر
كما جاءت، ولا تأول مع اعتقاد أن ظاهرها غير مراد، فتفرع من هذا أن الظاهر يعني به
أمران:
أحدهما:
أنه لا تأويل لها غير دلالة الخطاب، كما قال السلف: الاستواء معلوم، وكما قال سفيان
وغيره قراءتها تفسيرها، يعني أنها بينة واضحة في اللغة لا يبتغى بها مضائق التأويل
والتحريف، وهذا هو مذهب السلف، مع اتفاقهم أيضا أنها لا تشبه صفات البشر بوجه، إذ
الباري لا مثل له لا في ذاته ولا في صفاته.
الثاني:
أن ظاهرها هو الذي يتشكل في الخيال من الصفة كما يتشكل في الذهن من وصف البشر فهذا
غير مراد
“Kalangan muta’akhkhirin dari ahli kalam mengatakan suatu perkataan
baru yang aku tidak mengetahui ada seorang pun yang mendahului mereka dengan
perkataan tersebut. Mereka berkata; “Sifat-sifat ini dibiarkan sebagaimana
datangnya dan tidak dita'wil dengan meyakini bahwa zhahirnya bukanlah yang
dimaksud. Maka dari hal ini melahirkan cabang, yaitu bahwa zahir itu menjadi
dua perkara :
Pertama; yang tidak ada takwilnya selain petunjuk makna dari
khithabnya sebagaimana yang dikatakan salaf: “istiwa itu maklum” dan
sebagaimana dikatakan Sufyan dan selainnya bahwa “Bacaannya adalah tafsirannya”
Yaitu sifat-sifat ini terang dan jelas pada lughah dan tidak perlu dicari
kesempitan takwil dan tahrifnya, dan ini adalah mazhab salaf, dengan
kesepakatan mereka juga tidak mentasybih Allah dengan sifat manusia pada satu
sisi pun, kerana Allah tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, tidak pada
dzat-Nya dan tidak pula pada sifat-Nya.
Dan yang kedua adalah: “Bahwa zhahirnya adalah yang terbayang dalam
imajinasi sebagaimana terbayang pada fikiran berupa sifat manusia. Maka ini
bukanlah makna yang dimaksud". (Al-‘Uluw lil 'Ali Al-Ghaffar, hal. 251).
Syekh Sa'id Al-Kamli hafizhahullah menyebutkan dalam salah satu
kajiannya, bahwa para penduduk Maroko yang bermadzhab Maliki sudah lama berada
di atas aqidah madzhab Salaf ini jauh sebelum tersebar kepada mereka buku-buku
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Justru kemudian yang terkenal seakan hanya dari
madrasah wahabi ini. Dan seringkali aqidah madzhab salaf ini dicitrakan buruk
dengan label wahabi. Beliau membuat satu ilustrasi tentang kenyataan mengapa
yang terkenal membawa aqidah salaf ini dari saudi bukan dari Maroko, karena
Saudi itu timur sedangkan Maroko barat, dan matahari itu terbit di timur bukan
di barat. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hazm. (Lihat video beliau di
kolom komentar).
Wallahu A'lam.
