Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

NABI YANG DISEPAKATI MASIH HIDUP HINGGA HARI INI



Ada empat nabi Allah yang sering disebut mereka masih hidup hingga hari
ini. Maksud hidup di sini adalah belum pernah merasakan atau bertemu dengan
kematian. Keempatnya itu adalah : Idris, Ilyas, Khidir dan Isa ‘alaihimussalam.
Imam al Baghawi rahimahullah berkata :



وقالوا: أربعة من الأنبياء في الأحياء
اثنان في الأرض: الخضر وإلياس واثنان في السماء: إدريس وعيسى





“Dan mereka mengatakan : ada empat dari para nabi yang
masih hidup, dua di bumi yakni : khidir dan Ilyas dan duanya lagi di langit
yakni : Idris dan Isa.”[1]





Namun dari ke empat nabi tersebut, yang benar-benar secara meyakinkan dan
disepakati oleh para ulama masih hidup hanyalah Isa bin Maryam. Adapun selain
beliau ada yang diperdebatkan bahkan ada yang dianggap dalil akan kehidupannya
hingga hari ini tidak bisa diterima.



Insyallah kita akan bahas nanti tentang nabi Khidir, Idris dan Ilyas, kali
ini kita akan membahas terlebih dahulu sosok nabi yang disepakati masih hidup
yakni nabi Isa ‘alaihissalam.





Berkata al imam Thabari rahimahullah :



 



قال الحسن: قال رسول الله لليهود:
إن ‌عيسى ‌لم ‌يمت، وإنه راجع إليكم قبل يوم القيامة



 



“Dan berkata al Hasan : Bersabda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam
kepada orang-orang Yahudi : ‘ Sesungguhnya Isa tidak mati, dan sungguh ia akan
kembali kepada kalian sebelum terjadinya hari kiamat.”[2]



Berkata Ibnu Athiyah rahimahullah :





أجمعت الأمة على ما تضمنه الحديث
المتواتر من أن عيسى في السماء حي، وأنه سينزل في آخر الزمان فيقتل الخنزير ويكسر
الصليب ويقتل الدجال ويفيض العدل وتظهر به الملة – ملة محمد صلى الله عليه وسلم –
ويحج البيت ويبقى في الأرض أربعا وعشرين سنة وقيل أربعين سنة





“Umat Islam sepakat terhadap makna yang
disebutkan dalam banyak hadi
ts
yang mutawatir, bahwa nabi Isa berada di langit, masih hidup. Dia akan turun di
akhir zaman, membunuh babi, mematahkan salib, membunuh Dajjal, memenuhi bumi
dengan keadilan, dan agama Muhammad shallallahu‘alaihi wasallam menjadi
menang. Beliau juga berhaji ke ka’bah, dan tinggal di muka bumi selama 24
tahun. Ada yang mengatakan selama 40 tahun.
[3]





Berkata al Imam Ibnu Katsir rahimahullah :





ومن خصائصه ‌أنه ‌لم ‌يمت، وهو حي
الآن بجسده في السماء الدنيا. وسينزل قبل يوم القيامة على المنارة البيضاء الشرقية
بدمشق، فيملأ الأرض قسطا وعدلا، كما ملئت جورا وظلما، ويحكم بهذه الشريعة المحمدية،
ثم يموت ويدفن بالحجرة النبوية



“Dan termasuk dari kekhususannya (nabi Isa) bahwa
ia tidaklah mati. Dia hidup hingga hari ini di langit dunia. Nanti akan turun
sebelum berdirinya hari kiamat di menara putih sebelah timur Damasqus. Dan akan
memenuhi bumi dengan kemakmuran dan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi
kejahatan dan kedzaliman. Ia akan meneagkkan hukum syariat Muhammad. Lalu
kemudian wafat dan dimakamkan di kamar kenabian.”[4]





Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah :





بل رفعه الله إليه يبين أنه رفع
بدنه وروحه كما ثبت في الصحيح أنه ينزل بدنه وروحه



“Akan tetapi Allah mengangkatnya. Ayat ini menerangkan
bahwa ia diangkat badan beserta ruhnya sebagaimana telah kuat diterangkan dalam
hadits shahih bahwa dia juga nanti akan turun badan dan ruhnya sekaligus.”[5]





Keterangan yang sama dapat kita temukan di hampir semua kitab yang membahas
tentang tema ini, terkhusus lagi kitab-kitab tafsir yang mengurai firman Allah
ta’ala di surah an Nisa ayat 157 dan 158.





Dalilnya yang digunakan.





وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى
ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ
لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ
عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً
. بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ





Karena ucapan mereka (orang Yahudi): “Sesungguhnya
kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka
tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh
ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang
yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan
tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang
dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin
bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
” “Tetapi Allah mengangkatnya...”
(QS. An
Nisa : 157-158)





Lalu bagaimana dengan ayat yang mennyebut kata “wafat”
tentang Isa ?





Allah ta’a berfirman :





يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ
مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا





"Hai
Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat
kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir...”
(QS.
Ali Imran : 55)





Para ulama tafsir telah
menjelaskan makna kata “wafat” pada ayat tersebut. Mari kita simak versi
penjelasan dari imam ath Thabari rahimahullah :





ثم اختلف أهل التأويل في معنى"الوفاة" التي ذكرها
الله عز وجل في هذه الآية.
... وقال آخرون: معنى ذلك: إني قابضك من الأرض، فرافعك إليّ. وقال آخرون: معنى ذلك:... ومتوفيك بعد إنزالي إياك إلى الدنيا. وقال: هذا من المقدم الذي
معناه التأخير



“Para ulama
berbeda pendapat dalam menjelaskan makna “wafat” yang disebutkan oleh Allah di
ayat tersebut. Sebagian ulama mengatakan : Itu bermakna tidur. Sebagiannya lagi
berpendapat bahwa maknanya adalah diambil dari dunia dan diangkat kepadaKu
(Allah). Dan ulama yang lainnya berpendapat : Dimatikan setelah diturunkan ke
dunia lagi. Artinya : Mati di sini peristiwa nanti (di akhir) tapi disampaikan
di awal.”[6]





Pendapat yang berbeda dengan jumhur



Sedangkan sebagian ulama ada yang menukilkan pendapat yang dinisbahkan
kepada Ibnu Abbas radhiayallahu’anhu bahwa nabi Isa ‘alaihissalam sebenarnya telah
wafat. Ibnu Katsir berkata :





وقال العوفي عن ابن عباس في قوله " ورفعناه مكانا عليا:
رفع إلى السماء السادسة فمات بها، وهكذا قال الضحاك





“Dan berkata al ‘Aufi dari Ibnu Abbas ketika menjelaskan
firman ‘Dan kami angkat dia ke tmepat yang tinggi’ dia diangkat ke langit ke
tujuh dan meninggal di sana. Pendapat ini juga yang dinyatakan oleh adh Dhahak.”[7]





Wallahu a’lam.








[1] Tafsir al Baghawi (5/239).







[2] Tafsir ath Thabari (5/448).







[3]  Al Muharar al Wajiz (1/429).







[4] Bidayah wa Nihayah (9/390)







[5] Majmu’ Fatawa (4/323)







[6] Tafsir ath Thabari (6/455-458







[7] Qashas al Anbiya (1/73)