10 HIKMAH DARI PERISTIWA ISRA DAN MI’RAJ
Rajab dikenal
luas oleh umat Islam sebagai bulan terjadinya peristiwa luar biasa yang menjadi
salah satu mukjizat terbesar Nabi shalallahu’alaihi wassalam, yakni Isra dan Mi’raj. Karena
agungnya peristiwa ini, hingga diabadikan sebagian kisahnya dalam al Qur’an.
Para ulama telah
menyusun berbagai kitab yang isinya bukan hanya mengisahkan apa yang dialami
oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam saat diperjalankan di malam yang
mulia tersebut, namun juga menyebutkan beberapa hikmah-hikmah dibalik peristiwa yang agung ini, yang diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah
Dalam peristiwa
Isra’ dan Mi’raj dipampangkan dan dibentangkan kepada Nabi kita shalallahu’alaihi
wassalam berbagai tanda-tanda kebesaran Allah ta’ala untuk ditadaburi.
Peristiwa yang beliau alami ini kemudian beliau tuturkan kepada umatnya sebagai
pelajaran dan peringatan. Seperti berjumpanya beliau dengan arwah para nabi dan
rasul di langit, melihat syurga neraka, sampainya beliau di sidratul muntaha
dan berbagai peristiwa ghaib lainnya.
لَقَدْ
رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
“Sesungguhnya dia telah melihat
sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
(QS. An Najm: 18)
2. kedudukan tinggi syariat shalat lima waktu
Lewat peristiwa
ini juga dikukuhkannya kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam. Ini menunjukkan
bagaimana agungnya syariat yang satu ini. Bila untuk haji, puasa, zakat dan berbagai
perintah agama lainnya, cukup turun wahyu berupa ayat suci al Qur’an yang memerintahkannya,
tapi tidak dengan shalat. Allah memanggil langsung kekasihnya menerima
kewajiban shalat untuk dijalankan bersama umatnya.
3. Menanamkan sifat ittiba’ kepada Nabi
Ketika Nabi
shalallahu’alaihi wassalam mengkhabarkan peristiwa ini, banyak pihak yang kemudian
ragu-ragu bahkan menolak untuk mempercayainya. Di sinilah kemudian nampak
bagaimana keimanan para shahabat Nabi ridwanallhu’alaihim yang mereka menerima apapun
khabar yang datang dari Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam.
Terutama yang
menjadi icon keimanan saat itu adalah sayidina Abu Bakar yang kemudian
mendapatkan gelar ash Shidiq, karena senantiasa membenarkan Nabi tanpa keraguan
sedikitpun, dan beliau juga berhasil membungkam sebagian orang-orang Makkah
yang mencoba menggoyang keimanannya terhadap peristiwa ini.
4. Keistimewaan masjid al Aqsha
Dijadikannya
masjidil Aqsha sebagai salah satu spot peristiwa Isra dan Mi’raj tentu bukan tanpa
maksud, terkandung di dalamnya hikmah yakni peringatan untuk umat agar senantiasa
menjaga dan tidak melupakan kiblat pertama mereka.
Karena ternyata tanah
suci yang satu ini sepanjang sejarahnya, tidak pernah lepas dari segala upaya
musuh-musuh Islam untuk menjajah, menjarah dan menodai kesuciannya.
5. Khabar syurga dan neraka
Rasulullah
shalllahu’alaihi wassalam sepulang dari Mi’rajnya membawa oleh-oleh diantaranya
adalah khabar tentang keadaan syurga dan neraka sekaligus para penghuninya. Hal
ini agar umat kian termotivasi untuk kian bersungguh-sungguh mengejar kebaikan
dan keselamatan di negeri Akhirat.
6. Ujian keimanan manusia
Isra dan Mi’raj
dulu hingga hari ini mengundang perdebatan banyak pihak. Dan dari sekian kubu
yang memperdebatkannya, sudah pasti ada yang disusupi keragu-raguan atas
mujizat besar Nabi shalallahu’alaihi wassalam yang satu ini. Karena menurutnya
peristiwa yang terjadi di dalamnya tidak logis dan susah untuk diterima oleh akal.
Padahal sedari
awal kita telah disadarkan Isra Miraj itu babnya adalah mukjizat dan area
keimanan, bukan untuk ditimbang dengan akal. Tentu Islam adalah agama yang mengagungkan
akal, kita tidak asing dari berbagai ayat dalam al Qur’an yang memerintahkan
agar manusia mempergunakan akal dan pikirannya.
Tapi masalah
keimanan tidak semuanya bisa dijangkau dengan akal. Lagian, apa yang tidak masuk
akal jika Allah yang maha kuasa sudah berkehendak atas sesuatu ? Tidak ada yang
mustahil, kecuali kita ragu dengan kemaha kuasaanNya yang tidak terbatas.
7. Keutamaan Nabi shalallahu’alaihi wassalam
Dalam peristiwa
Isra Mi’raj ini kita ketahui bersama bagaimana Rasulullah dimuliakan
kedudukannya dengan shalat mengimami arwah para utusan Allah lainnya. Begitu juga
beliau dipertemukan oleh Allah dengan para nabi di beberapa tempat di langit
yang kesemuanya menyambut dan bergembira dengan kedatangan sang penutup para
Nabi shalallahu’alaihi wassalam.
8. Tingginya status penghambaan kepada Allah
Dalam ayat tentang
Isra Mi’raj nabi Muhammad shalallahu’alaihi wassalam disebut dengan hamba. Sebuah
kata yang sebenarnya dekat dengan kerendahan dan kehinaan, tapi Allah angkat
sedemikian rupa menjadi status yang melekat kepada makhluknya yang paling mulia,
al Mustaha Muhamad shalallahu’alaihi wassalam.
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ
ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا
“Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil
Aqsha...” (QS. Al Isra : 1)
9. Sarana pembekalan dakwah Rasulullah
Selain dari latar
belakang tahun kesedihan yang beliau alami, Isra dan Mi’raj juga menjadi bekal
bagi sang Nabi untuk menghadapi fase dakwah yang lebih besar dan luas dari
sebelumnya, yakni periode Madinah.
Di mana di fase
ini beliau bukan hanya berdakwah menegakkan kalimat tauhid di hati umatnya
seperti di periode Makkah, namun Rasulullah juga mulai memancangkan dakwah
membangun negara, berjihad dan menegakkan hukum-hukum Allah secara kaffah.
10. Menegaskan kefitrahan agama Islam
Salah satu fragmen
yang sangat iconik dalam Isra Mi’raj
adalah saat Nabi shallahu’alaihi wassalam diminta memilih minuman, maka beliaupun
mengambil susu dan meminumnya. Hal ini
yang kemudian menjadi simbol atau penegasan bahwa syariat agama Islam adalah yang
paling bersesuaian dengan fitrah kehidupan manusia. Artinya, tidak ada perintah
dalam agama ini kecuali pasti bermanfaat, sebagaimana juga larangannya pasti
membahayakan kehidupan umat manusia.
Wallahu a’lam.