MANA YANG UTAMA SHALAT WITIR DUA SALAM ATAU SATU SALAM ?
Kiyai, di kampung saya shalat witir dikerjakan dengan dua rakaat salam
lalu satu rakaat salam. Apakah boleh shalat witir seperti itu
Jawaban
Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq
Shalat Witir disepakati penysariatannya dan hukumnya
sunnah muakkadah menurut pendapat mayoritas ulama.[1] Dan mengenai tata caranya
dengan dikerjakan dengan tiga rakaat dua salam seperti yang ditanyakan itu
bukan hanya boleh tapi justru lebih afdhal dari yang dikerjakan dengan hanya
satu salam.
Meskipun boleh saja witir itu dengan tiga raka’at
satu salam, lima raka’at satu salam bahkan ada hadits Nabi yang menyebutkan
beliau pernah shalat witir hingga 9 raka’at dengan satu salam.[2] Itu semua dibolehkan
temasuk dengan mengerjakan witir hanya satu raka’at juga boleh dalam pandangan
mayoritas ulama.[3]
Witir satu raka’at
Kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat
bahwa paling seidkitnya witir adalah satu raka’at.[4] Dalilnya adalah :
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ
أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً
"Shalat malam dikerjakan dua rakaat, dua
rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir subuh tiba, shalatlah satu
rakaat sebagai witir.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berkata al imam Nawawi
rahimahullah :
دليل على أن أقل الوتر ركعة
وأن الركعة الفردة صلاة صحيحة وهو مذهبنا ومذهب الجمهور
"Hadits
tersebut merupakan dalil bahwa shalat witir
yang dikerjakan satu rakaat saja hukumnya sah, ini adalah pendapat madzhab kami dan juga yang menjadi pendapat dari mayoritas ulama'.”[5]
Witir tiga raka’at
Witir dengan jumlah tiga raka’at adalah shalat
witir yang disebut oleh Syafi’iyyah dan Hanabilah sebagai adna al kamal
(yang paling rendah dari kesempurnaan). Artinya, mengerjakan witir itu sudah
tingkatan sempurna meski berada di tingkat bawah karena shalat ini boleh
dikerjakan dalam raka’at yang lebih banyak lagi.
Dan untuk witir
tiga rakaat ini, ada riwayat yang menyebutkan Nabi shalallahu’alaihi
wassalam pernah mengerjakan dengan dua salam dan juga ada yang satu salam.
a.
Dengan satu salam
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يُوْتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ.
Dari ‘Aisyah
radiallahu ‘anha berkata: Adalah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam
berwitir tiga rakaat, baginda tidak memisahkan antara rakaat-rakaat tersebut”. (HR. Ahmad)
b.
Dengan dua salam
أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ
، عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ كَانَ يَفْصِلُ بَيْنَ شَفْعِهِ وَوِتْرِهِ بِتَسْلِيمَةٍ
، وَأَخْبَرَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ
“Telah
menceritakan kepadaku Salim bin Ibnu Umar :
Sesungguhnya Ayahnya memisahkan antara rakaat yang genap dengan rakaat yang
ganjil dengan salam, dan Ibnu Umar mengabarkan
: ‘ Sesungguhnya Nabi shalallaahu'alaihi wasallam
juga melakukan seperti itu (yaitu) memisahkannya dengan satu salam." (HR. Thabrani)[6]
Witir 5 raka’at
عَنْ
عَائِشَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ
بِخَمْسٍ لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي الْخَامِسَةِ فَيُسَلِّمُ
Dari Aisyah :
"Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melaksanakan shalat malam sebanyak tiga belas raka’at dan berwitir lima raka’at. Beliau tidak duduk (membaca tasyahud) kecuali
pada raka’at yang kelima, lalu salam." (HR. Ahmad)
Witir 7 raka’at
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله
عليه وسلم يُوتِرُ بِخَمْسٍ وَبِسَبْعٍ لاَ يَفْصِلُ بَيْنَهَا بِسَلاَمٍ وَلاَ بِكَلاَمٍ
Dari Ummu Salamah
: “Rasulullah
shalallaahu'alaihi wasallama shalat witir dengan lima dan tujuh rakaat yang
tidak dipisah dengan taslim (salam) atau bicara". (HR. Nasai)
Dan demikian juga ada riwayat beliau
shalallahu’alaihi wassalam shalat witir dengan 9 raka’at[7], 11 rakaat[8], dan 13 raka’at.[9]
Fashal dan Washal
Dan pelaksanaan witir dengan tiga, lima, tujuh,
sembilan rakaat dan seterusnya ini terbagi menjadi dua, yakni yang disebut
Fashl dan Washl.
Fashal artinya witir yang dikerjakan dengan
dikerjakan secara terpisah-pisah oleh salam. Jika tiga raka’at berarti dua
rakaat salam, lalu ditambah satu rakaat lagi. Jika lima raka’at, dua raka’at
salam, lalu dua raka’at salam lagi dan ditutup dengan satu raka’at, demikian
seterusnya.
Sedangkan Washal, artinya shalat witir
dikerjakan dengan cara bersambung, tiga raka’at satu salam, lima raka’at satu
salam, demikian seterusnya.
Manakah yang afdhal antara witir dengan Fashal atau Washal ?
Menurut mayorritas ulama, yang afdhal mengerjakan
witir adalah dengan cara Fashal alias salam di setiap dua raka’atnya, lalu
ditutup satu raka’at. Disebutkan dalam al Mausu’ah :
وقالوا: إن الفصل أفضل من الوصل،
لزيادته عليه السلام وغيره.
“Dan mereka mengatakan :
Sesungguhnya Fashal lebih afdhal dari Washal. Karena di dalamnya ada tambahan
salam dan selainnya.”[10]
Berkata al imam Nawawi
rahimahullah :
وأن الصحيح عندنا أن الفصل أفضل
وهو قول ابن عمر ومعاذ القارئ وعبد الله بن عياش ابن ابي ربيعة ومالك واحمد واسحق وأبي
ثور وقال الأوزاعي
“Dan sesungguhnya yang shahih
di sisi kami (Syafi’iyyah) bahwa yang afdhal adalah (witir) dengan cara fashal.
Dan ini juga adalah pendapat Ibnu Umar, Mu’adz al Qari, Abdullah bin Ayyasy,
imam Malik, imam Ahmad, imam Ishaq, Abu Tsauri dan juga Auza’i.”[11]
Berkata al Qahthani al Hanbali rahimahullah :
قال شيخ الإسلام يخير بين فصله ووصله
وصحح أن كليهما جائز... لكن الفصل أفضل من الوصل
“Dan telah berkata Syaikhul Islam : dan boleh dipilih antara mengerjakan
(witir) secara fashl atau Washal dan yang shahih kedua cara ini dibolehkan...
Akan tetapi mengerjakan secara Fashal (dengan
terpisah-pisah oleh salam) lebih utama dari washal (dengan satu salam).”[12]
Dalil bahwa
melakukan Fashal dalam witir lebih afdhal dari Washal adalah hadits-hadits
berikut ini :
1.Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata :
أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان يفصِلُ بينَ الشَّفعِ والوِتْرِ
"Rasulullah ﷺ shalat dengan memisahkan antara
raka'at yang genap dan yang ganjil." (HR. Ibnu Hibban)
2. Dari ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata :
الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى
الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ
بِوَاحِدَةٍ أخرجه مسلم.
Dahulu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam shalat antara setelah
selesai shalat Isya`, yaitu yang disebut oleh orang-orang dengan – al-‘atamah –
sampai fajar sebelas rakaat dengan salam setiap dua raka’at dan berwitir satu
raka’at.” (HR Muslim)
3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anha, ia berkata :
صَلَاةُ
اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
“ Shalat malam dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Untuk melengkapi
pengetahuan tentang shalat witir ini, bisa dibaca tulisan kami sebelumnya :
Shalat Witir, hukum dan keutamaannya. Demikian, wallahu a’lam.