BACAAN QUR’AN UNTUK MAYIT APAKAH BISA SAMPAI ?
Dari tiga
hal yang dikirim untuk orang yang telah meninggal, yakni yang berupa doa,
sedekah dan bacaan Qur’an, hal terakhir ini lah yang kemudian diperbeda pendapatkan
oleh para ulama. Tak tanggung-tanggung, dalam satu madzhab saja, pendapat ulamanya
tidak bulat. Hampir dari setiap madzhab ada yang menyebrang ke pendapat yang berbeda
dengan pendapat mu’tamad dari madzhabnya.
Namun
secara umum kelompok pendapat bisa dibelah menjadi dua, yang menyatakan sampai
diwakili oleh madzhab Hanafi dan Hanbali sedangkan yang menyatakan tidak sampai
diwakili oleh madzhab Maliki dan Syafi’i. Al imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata
:
أما وصول
ثواب العبادات البدنية كالقراءة، والصلاة، والصوم فمذهب أحمد، وأبي حنيفة، وطائفة
من أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها تصل، وذهب أكثر أصحاب مالك، والشافعي، إلى أنها
لا تصل
“Adapun mengenai sampainya pahala ibadah-ibadah badaniah seperti membaca
Al Qur’an, shalat, dan puasa, maka madzhabnya imam Ahmad, Abu Hanifah, dan sekelompok
pengikuti Malik dan Syafi’i menyatakan bahwa hal itu sampai pahalanya. Sedangkan pendapat kebanyakan sahabat Malik,
Syafi’i, mengatakan hal itu tidak sampai.”[1]
A. Pendapat yang menyatakan disyariatkan
dan bermanfaat
Secara resmi
ada dua madzhab yang mendukung pendapat ini, yakni kalangan Hanafiyah dan Hanabilah.
Meski kemudian ada beberapa ulama dari kalangan Malikiyyah dan Syafi’iyyah yang
turut mendukungnya.[2]
Al imam ibnu Abidin al Hanafi rahimahullah berkata :
ولا فرق بين أن يكون المجعول له ميتا أو حيا، والظاهر أنه لا فرق بين أن ينوي
به عند الفعل للغير أو يفعله لنفسه ثم بعد ذلك يجعل ثوابه لغيره
“Tidak ada perbedaan bolehnya
dihadiahkan kepada orang lain yang masih hidup ataukah yang sudah meninggal. Baik
dia niatkan untuk orang lain ketika mulai mengerjakannya atau dia awali niat dengan
niat untuk dirinya lalu ia berikan pahalanya kepada orang lain.”[3]
Al imam Dusuqi al Hanafi
rahimahullah berkata :
وإن قرأ الرجل وأهدى ثواب قراءته للميت جاز ذلك وحصل للميت أجره
“Jika seseorang membaca al Qur’an kemudian dia menghadiahkan pahala
bacaannya untuk orang yang telah meninggal, maka hal yang seperti itu boleh,
dan si mayit akan mendapatkan pahalanya.”[4]
Al imam Ibnu Abil izz al Hanafi rahimahullah berkata :
إن
الثواب حق العامل، فإذا وهبه لأخيه المسلم لم يمنع من ذلك، كما لم يمنع من هبة
ماله له في حياته، وإبرائه له منه بعد وفاته. وقد نبه الشارع بوصول ثواب الصوم على
وصول ثواب القراءة ونحوها من العبادات البدنية
“Sesungguhnya
pahala adalah hak orang yang beramal. Tapi ketika dia menghadiahkan pahala
itu kepada saudaranya sesama muslim, jelas bahwa itu tidak jadi masalah. Sebagaimana dia
boleh menghibahkan hartanya kepada orang lain ketika masih hidup. Atau
membebaskan tanggungan saudaranya yang muslim yang telah meninggal.
Syariat
juga telah
menjelaskan pahala puasa bisa sampai kepada mayit, yang itu mengisyaratkan
sampainya pahala bacaan al-Quran, atau ibadah badaniyah lainnya.”[5]
Berkata al imam Ahmad bin
Hanbal rahimahullah :
الميت يصل إليه كل شيء من الخير، للنصوص الواردة
فيه؛ ولأن الناس يجتمعون في كل مصر ويقرءون يهدون لموتاهم من غير نكير فكان إجماعا
“Sampai kepada mayit setiap kebaikan yang dikirim kepadanya. Nas-nas
tentang hal ini telah nyata adanya. Orang-orang telah berkumpul di
negeri-negeri mereka membaca al Qur’an lalu menghadiahkan pahalanya untuk orang
yang telah meninggal dan tidak ada yang mengingkarinya bahkan ini menjadi ijma’
akan kebolehannya.”[6]
Al imam Ibnu Qudamah al Hanbali rahimahullah berkata :
وقال أحمد
ويقرءون عند الميت إذا حضر ليخفف عنه بالقرآن يقرأ (يس) وأمر بقراءة فاتحة الكتاب
“Telah berkata imam Ahmad: Bahwa
mereka membacakan Al Qur’an dan juga surah Yasin di sisi mayit untuk meringankannya, dan juga
diperintahkan membaca surat Al Fatihah.”[7]
Sedangkan dari madzhab Maliki yang menyeberang
ke pendapat ini diantaranya adalah al Imam Al Qarafi Al Maliki, beliau berkata :
فينبغي
للإنسان أن لا يتركه، فلعل الحق هو الوصول، فإنه مغيب
“Selayaknya orang
tidak meninggalkannya (membaca Qur’an untuk mayit). Karena bisa jadi yang benar, pahala itu
sampai. karena
ini masalah ghaib.”[8]
Beliau juga
mengatakan, “Yang nampak adalah bahwa bagi orang yang sudah wafat akan mendapat
keberkahan dari membaca Al Quran, sebagaimana seseorang yang mendapatkan
keberkahan karena bertetanggaan dengan orang shalih.”[9]
Dari madzhab Syafi’i yang mendukung pendapat ini lebih banyak lagi.
Bahkan bisa dikatakan jumhur pengikut Syafi’iyyah muta’akhirin menyatakan disyariatkannya
membaca Qur’an untuk mayit. Yang menyatakan ini diantaranya adalah :
Imam Ibnu
Hajar Al Haitami Asy Syafi’i berkata :
أن بعض القرآن إذا قصد به نفع الميت نفعه
“Sesungguhnya sebagian bacaan al Qur’an jika ditujukan manfaatnya untuk
mayit maka itu bisa bermanfaat untuknya.”[10]
Imam
Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i berakata :
إذا نوى ثواب قراءته له أو دعا له عقبها بحصول ثوابها له أو قرأ
عند قبره حصل مثل ثواب قراءته وحصل للقارئ أيضا الثواب
“Jika seseorang
meniatkan bacaan al-Qur’annya untuk orang yang sudah meninggal, atau berdo’a dengan mengiringkan
pahala baginya. Atau membaca di kuburnya, maka sampailah
pahala bacaannya tersebut, dan yang
membacanya juga mendapatkan pahala.”[11]
Imam Suyuthi rahimahullah berkata :
الأئمة الثلاثة اجتمعوا على وصول ثواب القراءة للميت ومذهبنا خلافه
“Tiga imam madzhab mereka bersepakat atas sampainya bacaan al Qur’an
untuk orang yang telah meninggal, sedangkan dalam madzhab kita (syafi’i)
terjadi perbedaan pendapat.”[12]
Namun klaim
Ijma’ dari imam Suyuthi ini tidaklah benar, karena pada kenyataannya imam Malik
termasuk yang berpendapat makruh dan sebuah riwayat juga menyebutkan bahwa imam
Abu Hanifah menyatakan bahwa membaca al Qur’an untuk mayit tidak disyariatkan.
B. Pendapat yang menyatakan tidak disyariatkan dan tidak akan bermanfaat
Pendapat
ini secara resmi diusung juga oleh dua madzhab, yakni Malikiyah dan Syafi’iyyah.
Meskipun juga dari madzhab lain banyak yang menyatakan hal yang sama, sebagaimana
ada juga dari kalangan Malikiyah dan Syafi’iyyah yang mengikuti pendapat yang membolehkan
bacaan Qur’an untuk mayit sebagaimana yang telah disebutkan.
Berkata Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah :
وقال مالك والشافعي: يجوز جعل ثواب العمل للغير في الصدقة والعبادة المالية
وفي الحج، ولا يجوز في غيره من الطاعات كالصلاة والصوم وقراءة القرآن وغيره
“Berkata imam Malik dan Syafi’i dibolehkan menghadiahkan pahala untuk
orang lain dalam hal sedekah, ibadah harta dan juga haji, tapi tidak dibolehkan
ibadah selainnya seperti shalat, puasa, bacaan al Qur’an dan yang semisalnya.”[13]
Imam Malik dan mayoritas pengikut madzhabnya
وسئل مالك عن قراءة القرآن عند رأس الميت بـ يس. فقال: ما سمعت بهذا، وما
هو من عمل الناس
“Imam Malik ditanya tentang hukum membaca al Qur’an seperti surah yasin
di sisi mayit, maka beliau menjawab : ‘Aku tidak pernah mendengar hal ini, dan
itu bukanlah amal shalih yang biasa dikerjakan oleh umumnya manusia.”[14]
Pendapat imam Malik ini yang kemudian dikuatkan oleh ulama-ulama
Malikiyah setelahnya :
قاله
الحطاب. ولا قراءة فيها بفاتحة ولا بغيرها. ابن ناجي: ظاهر المذهب الكراهة، عبد الحق:
لأن الميت لا ينتفع بالقراءة، فلا معنى للقراءة عليه
“Berkata al Khattabi al Maliki : Tidak ada bacaan untuk mayit baik
berupa Fatihah atau lainnya. Berkata Ibnu Najih al Maliki : ‘Yang kuat dalam
pendapat madzhab Maliki hal ini dibenci.’ Berkata Abdul Haq al Maliki : ‘Karena
bacaan al Qur’an tidak akan bermanfaat untuk mayit, dan tidak ada artinya
membaca Qur’an untuknya.”[15]
Abul Hasan al Adawi al Maliki rahimahullah juga berkata :
بل يكره عند قراءة يس أو غيرها عند موته أو بعده أو على قبره
“Bahkan dibenci membaca Yasin atau yang selainnya ketika seseorang akan
meninggal atau setelah meninggal atau dibaca di atas kuburnya.”[16]
Al imam Syafi’i dan kalangan mutaqadimin pengikut madzhabnya
Sebagian kalangan mengingkari bahwa al-Imam
Asy-Syafi’i termasuk yang berpendapat bahwa mengirim pahala bacaan al-Qur’an tidak
disyariatkan. Hal ini tidaklah benar, karena riyawat tentang hal ini sangat
banyak. Dinukil oleh beberapa imam dari madzhab Syafi’iyyah diantaranya oleh
Ibnu Katsir dan juga imam Nawawi. Bahkan ia juga tercantum dalam kitab al umm
buah karya imam Syafi’i sendiri.
Nukilan Ibnu Katsir rahimahullah :
الشافعي رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء
ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم
“Syafi’i rahimahullah dan orang-orang yang mengikuti pendapatnya
menyatakan bahwa bacaan Qur’an tidak akan sampai pahalanya ketika dihadiahkan
kepada orang yang telah meninggal dunia. Karena itu termasuk yang bukan amal si
mayit dan juga bukan termasuk bagian dari usahanya.”[17]
Begitu juga
dengan imam Nawawi meski dalam hal ini beliau mengikuti pendapat yang membolehkan
membaca Qur’an untuk mayit, namun secara jujur beliau tetap menyampaikan nukilan
bahwa sang pendiri madzhab dan mayoritas ulama syafi’iyah termasuk yang
menyatakan tidak sampainya bacaan Qur’an kepada mayit :
والمشهور في
مذهبنا أن قراءة القرآن لا يصله ثوابها
“Dan yang masyhur dalam madzhab kami (Syafi’iyyah)
bahwa bacaan al Qur’an tidak akan sampai pahalanya kepada mayit.”[18]
Sedangkan di dalam karya imam Syafi’i sendiri yakni
kitab al umm beliau berkata :
يلحق الميت من فعل غيره وعمله
ثلاث حج يؤدى عنه ومال يتصدق به عنه، أو يقضى ودعاء فأما ما سوى ذلك من صلاة، أو صيام
فهو لفاعله دون الميت
“Amalan orang lain yang akan sampai kepada orang yang
telah meninggal dunia ada tiga
perkara, (1) haji yang
dikerjakan atas namanya (2)
harta yang disedekahkan atas namanya atau yang dibayarkan atasnya dan (3) doa.
Adapun selain hal ini seperti shalat
atau puasa maka pahalanya untuk
pelakunya, bukan untuk si mayit.”[19]
Kalimat dari Syafi’i di atas juga dinukil sama persis
oleh imam Nawawi dalam Majmu’nya.[20]
Sedangkan dari kalangan Hanabilah yang mengikuti
pendapat tidak sampainya bacaan Qur’an untuk mayit dinyatakan oleh imam al Buhuti
al Hanbali rahimahullah :
Al imam al
Buhuti al Hanbali rahimahullah berkata :
وقال
الأكثر لا يصل إلى الميت ثواب القراءة وإن ذلك لفاعله
“Mayoritasnya mengatakan, pahala bacaan al-Quran
tidak sampai kepada mayit, dan itu juga milik orang yang beramal.” [21]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
يصل إلى
الميت قراءة أهله، وتسبيحهم، وتكبيرهم، وسائر ذكرهم لله تعالى، إذا أهدوه إلى
الميت
“Bisa sampai kepada mayit pahala bacaan
keluarganya, juga bacaan tasbih, takbir dan semua dzikir-dzikir mereka jika itu
dihadiahkan untuk orang yang telah meninggal.”[22]
Kesimpulan
1. Ulama telah berijma’ (sepakat) bahwa doa
dan sedekah dari seorang muslim kepada muslim lain yang telah meninggal dunia
adalah masyru’ (disyariatkan).
2.
Ulama berbeda pendapat mengenai masyru’iyahnya bacaan Qur’an dari seorang
muslim kepada muslim lain yang telah meninggal dunia. Jadi ini adalah
masalah khilafiyah.
Dan tidak ada sikap yang lebih arif
dan hanif (lurus) dalam masalah khilafiyah selain menghormati pendapat yang
berbeda dengan diri kita. Kita harus menghormati saudara kita yang mengganggap
bahwa hal ini ada syariatnya.
Sebaliknya, kita yang berpendapat
bahwa pengiriman bacaan Qur’an disyariatkan, janganlah pula mudah menvonis dan
melemparkan tuduhan. Seperti memberikan cap Wahhabi kepada muslim
lainnya yang tidak mau membaca al Quran untuk mayit. Apakah Imam
Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Asy Syafi’i adalah Wahabi karena
memegang pendapat ini? Bagaimana mungkin mereka disebut Wahabi, padahal
gerakan Wahabiyah baru ada hampir sepuluh Abad setelah zaman tiga imam ini !?
Sudah saatnya umat islam
bersikap dewasa dalam masalah ini, terlalu banyak kerja besar dengan
manfaat yang lebih besar dari sekedar mengurusi masalah yang justru
mengundang masalah baru.
Kita tidak
bisa memaksakan manusia untuk berpendapat sesuai dengan pendapat kita sendiri
dengan menafikan, mengecilkan atau malah menghina pendapat orang lain. Tindakan
seperti ini tidak akan dilakukan kecuali oleh mereka yang jahil dan berjiwa
kerdil.
قُلْ
كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى
سَبِيلًا
“Setiap
kalian beramal dengan kesanggupannya, dan Tuhanmulah yang paling tahu siapa
yang paling benar jalannya.” (Al-Isra
:84)
Wallahu’alam.