Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

MENGIRIM PAHALA YANG DISEPAKATI PENSYARIATANNYA

 Tentang memindahkan
pahala kepada orang lain baik mereka yang masih hidup ataupun yang telah wafat,
hukumnya ada yang boleh, ada yang tidak boleh dan ada yang diperbeda pendapatkan
kebolehannya. Dalam al Mausu’ah disebutkan :





نقل ثواب القربة للغير... تنقسم القربات إلى ثلاثة أقسام: قسم حجر الله تعالى على عباده في ثوابه، ولم
يجعل لهم نقله لغيرهم، كالإيمان والتوحيد، فلو أراد أحد أن يهب قريبه الكافر إيمانه
ليدخل الجنة دونه لم يكن له ذلك
... وقسم اتفق الفقهاء على أن الله تعالى أذن في نقل ثوابه، وهو القربات المالية...
وقسم اختلف فيه



 “Memindahkan pahala ibadah kepada orang lain... Terbagi menjadi tiga
bagian : Bagian pertama adalah pahala yang Allah ta’ala hanya berikan kepada
pelakunya saja, maka ini tidak bisa dipindah/dikirimkan seperti keimanan dan
tauhid. Sehingga kalau ada seorang muslim ingin menghibahkan kepada orang kafir
sebagian keimanannya, yang seperti itu tidak akan ada gunanya.





Bagian kedua adalah yang disepakati oleh para ahli fiqih bahwa Allah ta’ala
mengizinkan seseorang untuk memindahkan / mengirimkan sebagian pahala ibadahnya,
dalam ketegori ini contohnya ibadah harta.





Dan bagian ketiga adalah yang diperbeda pendapatkan boleh tidaknya
dikirim pahalanya...”[1]



Dan
kaitannya mengirimkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia yang lazim
dilakukan dan terus menuai pro kontra himgga hari ini, di tulisan sebelumnya telah
kami jelaskan. Dari tiga hal amal shalih yang pahalanya dikirimkan untuk mayit,
ada dua yang disepakati hukum kebolehannya dan satu hal lainnya diperbeda pendapatkan.
Dua hal yang ulama telah ijma’ tentang kebolehannya adalah :
Mengirim Doa Dan Pahala sedekah bagi Orang Yang Telah Meninggal Dunia.





Di tulisan bagian
kedua ini, kita akan membahas secara khusus dua hal tersebut.





Berdoa dan bersedekah yang
diniatkan kebaikan pahalanya untuk mayit, telah menjadi ijma’ seluruh imam
kaum muslimin dari zaman ke zaman.
Dan kehujjahan Ijma’ telah
diakui
oleh
seluruh ulama dari berbagai madzhab, tidak ada yang mengingkari ijma’
kecuali ahlu bid’ah dan kelompok menyimpang dari kebenaran.





Al
Imam  Al Hafizh  Al Khathib Al Baghdadi  :





‌إجماع ‌أهل
‌الاجتهاد ‌في ‌كل ‌عصر ‌حجة ‌من ‌حجج ‌الشرع ‌ودليل ‌من ‌أدلة ‌الأحكام ، ‌مقطوع ‌على
‌مغيبه



 “Ijma’ (kesepakatan) dari ahli
ijtihad dalam setiap masa adalah satu di antara hujjah-hujjah syariat dan satu
di antara dalil-dalil hukum yang dipastikan kebenarannya".[2]





Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata





الإجماع
‌وهو ‌متفق ‌عليه ‌بين ‌عامة ‌المسلمين ‌من ‌الفقهاء والصوفية وأهل الحديث والكلام
وغيرهم في الجملة وأنكره بعض أهل البدع من المعتزلة والشيعة



 



 “Ijma’
telah menjadi kesepakatan kaum muslimin, baik dari kalangan ahli fiqih, sufi,
ahli hadits, dan ahli kalam, serta selain mereka secara global
. Dan yang mengingkarinya hanyalah dari sebagian ahli bid’ah seperti mu’tazilah dan
syi’ah.”[3]



 Imam As Sarkhasi  berkata :  “Orang-orang yang mengingkari keberadaan
ijma sebagai hujjah, maka mereka telah membatalkan ushuluddin (dasar-dasar
agama), padalah lingkup dasar-dasar agama dan referensi umat Islam adalah
ijma’nya mereka, maka para pengingkar ijma’ merupakan orang-orang yang
merobohkan dasar-dasar agama.”[4]





Diantara dalil kehujjahan Ijma’
adalah hadits berikut ini :





إِنَ
الله لَا يَجْمَعُ أمَّتِي عَلَى ضَلاَلة وَيَدُ اللهِ مع الجماعَة



 



“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan  umatku dalam
kesesatan, dan tangan Allah bersama jamaah.”
(HR. Tirmidzi )





Adapun pernyataan
ijma’ dari para ulama tentang disyariatkannya do’a dan sedekah untuk orang yang
telah meninggal dunia sangatlah banyak, mencakup dari semua pendapat ulama
madzhab yang empat. Berikut ini kami cantumkan sebagiannya saja :





Al imam Muslim rahimahullah :





فإن ‌الصدقة ‌تصل ‌إلى ‌الميت وينتفع بها، بلا خلاف بين المسلمين





“Sesungguhnya sedekah akan sampai pahalanya kepada orang yang telah
meninggal dan bermanfaat untuknya, tidak ada perbedaan dalam masalah ini di
tengah-tengah kaum muslimin.”[5]



Beliau juga berkata :





وأما الدعاء ‌للميت، والصدقة عنه، فينفعانه بلا خلاف.وسواء في ‌الدعاء ‌والصدقة، الوارث والأجنبي



“Adapun do’a dan sedekah untuk mayit, maka keduanya bermanfaat. Tidak
ada perbedaan pendapat dalam hal ini, baik yang mendaoakan atau mensedekahkan
ahli warisnya ataupun orang lain.”[6]





Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i rahimahullah berkata :





‌فأما ‌الدعاء
‌والصدقة ‌فذاك ‌مجمع ‌على ‌وصولهما، ‌ومنصوص ‌من ‌الشارع ‌عليهما





“Adapun
berdoa dan bersedekah, maka keduanya telah disepakati (ijma’) akan sampai
kepadanya (mayit), dan keduanya memiliki dasar dalam nash  syariat.”[7]





Imam An
Nawawi
Asy Syafi’i rahimahullah berkata :





‌أن ‌الصدقة
‌عن ‌الميت ‌تنفع ‌الميت ‌ويصله ثوابها وهو كذلك بإجماع العلماء وكذا أجمعوا على وصول
الدعاء



“Adapun
sedekah untuk mayit, maka itu akan sampai pahalanya, demikianlah menurut ijma’
ulama sebagaimana para ulama juga ijma’ akan sampainya doa atas mayit. ”[8]



Imam Ibnu
Taimiyah
al Hanbali
rahimahullah
 : 





‌والأئمة ‌اتفقوا
‌على ‌أن ‌الصدقة ‌تصل ‌إلى ‌الميت ‌وكذلك ‌العبادات ‌المالية: ‌كالعتق





 “Para imam telah bersepakat bahwasanya sedekah akan sampai kepada
mayit, demikian juga ibadah harta
lainnya, seperti membebaskan budak.”[9]







 Imam
Ibnu Qudamah
al Hanbali
rahimahullah berkata
 





أما الدعاء والاستغفار
‌والصدقة وأداء الواجبات فلا أعلم فيه خلافا



“Adapun do’a, istighfar, sedekah, dan penunaian kewajiban (seperti
nadzar dll.) maka aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang
kebolehannya.”[10]





Asy Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah :





اتفق العلماء على وصول ثواب ‌الدعاء ‌والصدقة والهدي للميت





“Telah bersepakat para ulama atas sampainya pahala do’a, sedekah dan
sembelihan untuk orang yang telah meninggal dunia.”[11]



Dan masih banyak lagi pernyataan para ulama lainnya yang menjelaskan permasalahan ini,  namun kami merasa bahwa fatwa-fatwa
di atas sudah sangat mencukupi, dan
sebagai tambahan
berikut
kami
sertakan
 fatwa dua ulama Saudi :



1.   
Mantan Mufti Saudi Arabia- Syaikh Abdul Aziz Baz berfatwa
:





أما
الدعاء للأموات والصدقة عنهم فهذا ينفعهم،
الصدقة تنفع الميت، والدعاء ينفع الميت





“Ada pun do’a dan bersedekah untuk orang yang telah meninggal
dari mereka (orang Islam)
maka 
semua ini bermanfaat, sedekah bermanfaat bagi mayit, demikian juga doa akan
bermanfaat bagi mayit.”[12]





2.   
Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin mengatakan
:





الصدقة
عن الميت تنفع سواء بمال أو طعام لقد ثبت في صحيح البخاري



 “Adapun sedekah baik dengan harta maupun makanan
adalah bermanfaat bagi mayit, sebagaimana ini telah ditetapkan oleh Rasulullah
dalam hadits riwayat al Bukhari
...”[13]



Dalil-dalilnya





Berkata al imam Nawawi rahimahullah :





عن بعض أصحاب الكلام من أن الميت لا يلحقه بعد موته ثواب فهو مذهب باطل قطعا
وخطأ بين مخالف لنصوص الكتاب والسنة وإجماع الأمة فلا التفات إليه ولا تعريج عليه



“Telah disebutkan adanya riwayat dari sebagian ahli kalambahwasanya
orang yang telah meninggal dunia tidak akan bisa mendapatkan pahala lagi. Ini adalah
pendapat kelompok batil, tanpa dalil dan salah. pernyataan mereka ini menentang
nas-nas dalam al Qur’an dan juga dalam hadits serta kesepakatan umat. Maka
jangan pernah melirik sedikitpun ke pendapat mereka.”[14]





Dan berkata Abul Izz al Hanafi
rahimahullah :





‌وذهب
‌بعض ‌أهل ‌البدع ‌من ‌أهل ‌الكلام ‌إلى ‌عدم ‌وصول ‌شيء ‌البتة، ‌لا ‌الدعاء ‌ولا
‌غيره. ‌وقولهم ‌مردود ‌بالكتاب ‌والسنة



Dan telah
diketahui adanya pendapat dari kalangan ahli bid’ah yakni para mutakallimin,
yang menyatakan tiada yang sampai sama sekali (amalan untuk mayit), baik itu
doa ataupun amalan selainnya. Perkataan mereka ini tertolak oleh dalil-dalil
kitabullah dan sunnah Rasulullah.
[15]



Dalil-dalil yang dimaksudkan
adalah :





A.        
Do’a





 Al Qur’an surah al Hasyr ayat 10 :





رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا
تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ
رَحِيمٌ



 “Ya
Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman
lebih dahulu dari kami.”





إذا صلَّيْتم
على الميت فأخلصوا له الدعاء



“Jika kalian menshalatkan mayit, maka ikhlaskanlah dalam mendoakannya.” (HR.
Abu Daud)



كان النبيُّ
صلى الله عليه وسلم إذا فَرغ من دفن الميِّت، وقف عليه فقال
: استغفروا
لأخيكم، واسألوا له التثبيتَ؛ فإنه الآن يُسأل



“Adalah Nabi shalallahu’alaihi wassalam jika selesai dari menguburkan jenazah
beliau berdiri lalu bersabda : Mohonkanlah ampun untuk saudara kalian ini.
Mintakan agar ia diberi kekokohan, karena ia akan ditanya.” (HR. Abu Daud)





B . Sedekah





Hadits Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah
Radhiallahu ‘Anha, ia berkata :





أن رجلًا أتى
النبيَّ صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إن أمي افتُلِتَتْ نفسُها ولم
تُوصِ، وأظنها لو تكلَّمت تصدَّقتْ، أفلها أجرٌ إن تصدَّقْتُ عنها؟ قال: نعم



 “Bahwa
ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi
shalallahu’alaihi wasslam : “Sesungguhnya ibuku wafat  secara mendadak,
aku kira dia punya wasiat untuk sedekah, lalu apakah ada pahala baginya jika
aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: “Na’am (ya), sedekahlah untuknya.”



أَنَّ
النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ
شُبْرُمَةَ. قَالَ « مَنْ شُبْرُمَةَ ». قَالَ أَخٌ لِى أَوْ قَرِيبٌ لِى. قَالَ «
حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ». قَالَ لاَ
. قَالَ
« حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ
»





“Bahwa
Nabi
shalallahu’alaihi
wasslam
pernah mendengar seorang laki-laki berkata: Labbaik an
Syubrumah
 (Ya Allah, saya perkenankan perintahMu untuk si Syubrumah).
Nabi bertanya: Siapa Syubrumah itu ? Dia menjawab : Saudara saya atau
teman dekat saya. Nabi bertanya: Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu? Dia
menjawab: belum.
Beliau bersabda :
Berhajilah untuk dirimu kemudian berhajilah untuk Syubrumah !”
(HR. Abu
Daud)





Semoga
bermanfaat









[1]
Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al
Kuwaitiyyah
(33/99)







[2] Al Faqih wal Mutafaqih (1/397)







[3]
Majmu’ Fatawa (3/6)







[4]  Ushul Az Zarkhasi (1/296.)







[5]
Shahih Muslim (1/16)







[6]
Raudhatut Thalibin (6/202)







[7]
Tafsir Ibnu Katsir (7/465)







[8]
Syarah Shahih Muslim (7/90)







[9]
Majmu’ Fatawa (24/309)







[10]
Al Mughni  (2/567)







[11]
Fqih al Islami wa Adillatuhu
(3/2095)







[12] Fatawa Nur ‘Ala ad Darb (13/378)







[13] Fatawa Nur ‘Ala ad Darb (9/2)







[14]
Syarah Nawawi ala Muslim (1/90)







[15]
Syarah ‘Aqidah Thahawiyah (2/664)