KEDERMAWANAN YANG MENGAGUMKAN
Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq
Diantara akhlaq
mulia dari sayidina Utsman yang paling menonjol adalah kedermawanan dan
seungguhannya berkorban harta untuk agama. Banyak riwayat yang menyebutkan bagaimana
dahsyatnya sedekah-sedekah beliau, sampai sebagian ulama mengatakan, Utsman
adalah diantara manusia yang telah membeli syurga dengan harta yang
dimilikinya.
Abu Hurairah berkata :
اشْترى عُثْمَان من رَسُول الله - صلى الله عَلَيْهِ وَسلم - الْجنَّة مرَّتَيْنِ:
يَوْم بِئْر رومة، وَيَوْم جَيش الْعسرَة
“Utsman telah membeli dari rasulullah shalallahu’alaihi wassalam syurga
sebanyak dua kali, yaitu ketika membeli sumur rumah dan ketika ia membiayai
pasukan di masa sulit.” (HR. Hakim)
1. Membeli sumur rumah
Ketika Rasulullah
shalallahu’alaihi wassalam mulai membangun negara Madinah, beliau melihat bahwa
diantara kebutuhan mendesak masyarakat kala itu adalah sumber air bersih yang
jumlahnya belum mencukupi.
Kala itu ada
sebuah sumur di pusat Madinah yang bernama sumur rumah dimiliki oleh seorang
Yahudi, dalam riwayat lain milik seorang dari suku Ghifar yang mana airnya ia
jual beberapa dirham untuk setiap satu embernya.
Kala itu
Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda :
مَنْ
يَحْفِرْ بِئْرَ رُومَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ
“Siapa yang
membebaskan sumur rumah, maka ia akan mendapatkan syurga.” (HR. Bukhari)
Maka Utsman pun bergegas membeli sumur itu dengan harga 35.000 dirham atau
setara dengan uang 2,8 milyar rupiah lalu menyerahkan kepada Rasulullah untuk
kemaslahatan kaum muslimin.[1]
2. membiayayai pasukan dalam peperangan di masa sulit
Di tahun ke 9 Hijriyah, Rasulullah mendengar khabar adanya pergerakan
tentara Romawi di perbatasan wilayah Islam, maka beliau menyiapkan para
shahabatnya untuk berangkat ke Tabuk menyongsong musuh. Mengingat saat itu
sedang puncak musim panas dan jarak yang dituju sangat jauh, maka beliau shalallahu’alaihi
wassalam membutuhkan pendanaan untuk operasi ini dalam jumlah yang besar.
Apalagi kaum mulismin yang berangkat untuk berjihad saat itu mencapai
jumlah 30.000 orang, tentu dibutuhkan bekal yang sangat tidak sedikit.
Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam menyeru agar kaum muslimin
mendermakan hartnya untuk turut membiyayai rombongan pasukan ini, beliau
bersabda :
مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ
“Siapa yang turut membekali pasukan di masa sulit ini maka baginya syurga.”
(HR. Bukhari)
Maka berbondong-bondonglah para
shahabat kala itu baik yang kaya maupun miskin untuk menginfaqkan hartanya di
jalan Allah, tak terkecuali tentunya sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu.
Tercatat infaqnya Utsman kala itu adalah :
أنه جهز جيش العسرة بسبع مائة أوقية من ذهب
“Beliau menyiapkan bekal untuk pasukan masa sulit ini senilai 700 uqiyah
emas.”[2]
Jika satu uqiyah emas setara dengan 31,7475 gram emas, maka 700 uqiyah
adalah senilai 21,2 milyar rupiah.
فهو الذي نثر في حجر النبي، صلى الله عليه وسلم، ألف دينار لتجهيز جيش العسرة
“Dia datang ke kamar Nabi shalallahu’alaihi wassalam lalu meletakkan 1000
dinar untuk membiyayai pasukan masa sulit.”[3]
Jika satu dinar senilai 4 juta rupiah, berarti sedekah beliau ini jumlahnya
4 milar rupiah.
جهز عثمان بسبع مائة وخمسين ناقة، وخمسين فرسا
“Utsman menyerahkan 750 ekor unta dan 50 kuda perang.”[4]
Jika unta naqah harganya berkisar 350.000 – 500.000 real, berarti infaq
sayidina Utsman ini setara dengan 120 milyar. Sedangkan
kuda Arab untuk pacuan sekarang ini rata-rata 25.000 – 30.000 USD, berarti nilainya adalah
22,5 milyar.
Sedangkan riwayat lainnya menyebutkan yang beliau sedekahkan adalah 300
unta dengan muatannya.[5] Ada juga riwayat yang menyebut
900 ekor unta tunggangan dan 100 ekor kuda perang.[6] Ada juga 1000 ekor unta
tunggangan dan 70 kuda.[7] Dan bila ini kita hitung, nilainya
bisa lebih “gila’ lagi...
Sehingga ketika melihat apa yang dilakukan oleh sayidina Utsman dengan
sedekah-sedekahnya, Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda :
مَا ضَرَّ ابْنُ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ
" يُرَدِّدُهَا مِرَارًا
“Tidak akan ada yang membahayakan anaknya ‘Affan, setelah apa yang dia lakukan
hari ini.’ Dan beliau terus mengulang-ulang ucapan ini.” (HR. Ahmad)
Lalu Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda mendoakannya :
اللَّهمّ ارْضَ عَنْ عُثْمَانَ، فَإِنِّي عَنْهُ
رَاض
“Ya Allah ridahilah Utsman, karena sesungguhnya aku meridhainya.”[8]
Dalam riwayat lainnya, beliau mendoakannya :
غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا عثمان مَا أَسْرَرْتَ
وَمَا أَعْلَنْتَ
“Semoga Allah mengampunimu wahai Utsman dari semua dosa yang engkau
sembunyikan maupun yang engkau nampakkan.”[9]
Wallahu a’lam