Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tag Populer

NASEHAT SAYIDINA UTSMAN BIN AFFAN





Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq





Berikut ini adalah beberapa kalimat nasehat dari khalifah ar Rasyidin yang
ketiga, sayidina Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu.





‌إن ‌الله ‌ليزع ‌بالسلطان ‌ما ‌لا ‌يزع ‌بالقرآن



“Sesungguhnya Allah telah
menghilangkan kemunkaran dengan seorang penguasa (yang adil) apa yang tidak
bisa dihilangkan dengan al Qur’an.”[1]





إنكم في
دار قلعة، وفي بقية أعمار، فبادروا آجالكم بخير ما تقدرون عليه



“Sesungguhnya
kalian tinggal di negeri yang pasti akan kalian tinggalkan. Dan kalian sekarang
berada di sisa-sisa umur. Sebelum ajal datang menjemput, berbuat baiklah
sebanyak yang kalian mampu.”[2]





‌لو ‌أن ‌قلوبنا ‌طهرت ‌ما ‌شبعنا ‌من ‌كلام ‌ربنا، وإني لأكره أن يأتي علي يوم
لا أنظر في المصحف



 “Seandainya hati kita bersih, maka
kita tidak akan pernah kenyang dari menyimak firman Tuhan kita.  Dan sungguh aku membenci datangnya suatu hari
sedangkan aku tidak bisa memandang mushaf al Qur’an.”[3]



واعتبروا
بمن مضى، ثم ‌جدّوا ‌ولا ‌تغفلوا؛ فإنّه لا يغفل عنكم



“Ambilah pelajaran dari orang
terdahulu, lalu bersungguh-sungguhlah dan jangan pernah lalai, karena Dia tidak
pernah lalai dari mengawasi kalian.”[4]





فلقد أتيتم؛ صبحتم أو
مسيتم، ألا وإن الدنيا طويت على الغرور



“Kalian
dalam kondisi diintai (oleh kematian). Ketika kalian berada di waktu pagi atau
pun sore hari. Maka waspadalah, karena sesungguhnya dunia ini tipuan yang
melenakan.”[5]



إن الله عز وجل إنما أعطاكم
الدنيا لتطلبوا بها الآخرة، ولم يعطكموها لتركنوا إليها



“Sesungguhnya
Allah Azza wa jalla memberikan kalian dunia agar dengannya kalian bisa mengejar
akhirat. Bukan diberikan untuk membuat kalian condong kepadanya.”[6]



ألا وإن ‌الدنيا ‌خضرة
‌قد ‌شهيت إلى الناس، ومال إليها كثير منهم، فلا تركنوا إلى الدنيا ولا تثقوا بها،
فإنها ليست بثقة، واعلموا أنها غير تاركة إلا من تركها



“Waspadalah,
karena sesungguhnya dunia itu hijau ranau yang kenikmatannya diangan-angankan
oleh manusia. Kebanyakan mereka telah condong kepadanya. Jangan kalian menunduk
kepada dunia dan jangan mempercayai apapun darinya. Karena dunia itu tidak bisa
dipercaya. Dan ketahuilah, bahwa dunia itu tidak akan menjadi peninggalan (yang
baik) kecuali bagi yang mau meninggalkannya (yang tidak condong kepadanya).”[7]



أين أبناء الدنيا وإخوانها
الذين أثاروها وعمروها ومتعوا بها طويلا؟ ألم تلفظهم؟



“Mana
mereka yang pernah menjadi anak emasnya dunia dan yang telah dimanjakan oleh dunia
? Yaitu mereka telah mendapatkan bagian besar, memakmurkan dan mendapatkan
kenikmatan yang panjang dari dunia ? Bukankah pada akhirnya dunia juga mencampakkan
mereka ?”[8]





Setiap
kali sayidina Utsman melihat kuburan beliau menangis, ketika hal itu ditanyakan
kepadanya, beliau menjawab :





هو أولُ منازلِ الآخرة
وآخر منازل الدنيا؛ فمن شُدِّد عليه فما بَعْده أشد، ومن هُوِّن عليه فما بعده أهون



“Karena
kubur adalah tempat pertama alam akhirat dan tempat terakhir dari dunia.  Siapa yang alam kuburnya berat, maka akan
berat kehidupan setelahnya. Dan siapa yang ringan alam kuburnya, akan ringan
pula kehidupan setelahnya.”[9]





إن الدنيا تفنى والآخرة
تبقى، فلا تبطرنكم الفانية، ولا تشغلنكم عن الباقية، فآثروا ما يبقى على ما يفنى



“Sesungguhnya
dunia itu akan sirna, sedangkan akhirat kekal selamanya. Maka jangan sampai
sesuatu yang akan sirna justru yang menguasai kalian. Dan kalian tersibukkan
dari yang kekal. Maka, utamakanlah memburu yang kekal dari yang akan sirna.”[10]





أنتم إلى إمام فَعَّال
أحْوَجُ منكم إلى إمام قَوَّال



“Kalian
lebih butuh kepada pemimpin yang banyak kerja dari pada yang hanya pandai
berbicara.”[11]



والزموا جماعتكم لا تصيروا
أحزابا



Senantiasalah
bersama jama’ah, jangan kalian berpecah belah menjadi kelompok-kelompok.”[12]



يكفيك من الحاسد أنه يغتمُّ
وقتَ سرورك



“Cukuplah
untukmu (sebagai kemenangan) dari orang yang iri kepadamu, ia berduka saat
engkau gembira.”[13]





Wallahu
a’lam.









[1] Al Kamil fi al Lughah wal Adab (1/214)







[2] Al Bidayah wa Nihayah (10/215)







[3] Syu’abul Imam li Baihaqi (2/402)







[4] Nihayah al Arab fi al Funun al Adab
(19/405)







[5] Al Bidayah wa Nihayah (10/215)







[6] Tarikh ath Thabari (4/422)







[7] Tarikh at Thabari (4/422)







[8] Al Bidayah wa Nihayah (7/166)







[9] Majma’ al Amtsal (2/453)







[10] Tarikh at Thabari (4/422)







[11] Majma’ al Amtsal (2/453)







[12] Tarikh Umam al Muluk (4/269)







[13] Majma’ al Amtsal (2/453)